Dalam industri pertunjukan musik, istilah artist rider bukanlah hal asing bagi promotor dan event organizer (EO). Rider merupakan dokumen berisi daftar kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum seorang artis tampil, mencakup aspek teknis, konsumsi, akomodasi, hingga kondisi ruang backstage.

Seiring meningkatnya standar konser dan profesionalisme industri hiburan di Indonesia, permintaan rider para musisi pun kian detail. Bagi tim produksi, hal ini berarti persiapan yang lebih matang dan kompleks. Namun, bagi para artis, rider menjadi instrumen penting untuk memastikan performa berjalan optimal.

Berikut sejumlah musisi Tanah Air yang dikenal memiliki rider cukup rinci dan kerap menjadi perbincangan di balik layar panggung.

Raisa Andriana

Raisa dikenal sebagai penyanyi yang sangat menjaga kualitas vokal saat tampil secara langsung. Dalam berbagai produksi konser, rider yang diajukan tim Raisa umumnya menitikberatkan pada aspek teknis, mulai dari kualitas sistem suara, posisi monitor panggung, hingga kestabilan kondisi ruang ganti.

Baca Juga: Profil Raisa Andriana dan Perjalanan Kariernya di Dunia Musik Tanah Air

Sempat beredar rumor mengenai permintaan air galon untuk kebutuhan mandi, namun kabar tersebut telah dibantah langsung oleh Raisa. Adapun sejumlah kebutuhan yang kerap tercantum dalam ridernya antara lain ruang backstage ber-AC, minuman isotonik, susu, tabung oksigen, handuk bersih, serta permintaan khusus agar tidak disediakan makan siang dari salah satu jaringan fast food asal Jepang.

Raisa menegaskan, kebutuhan tersebut tidak semata untuk dirinya, melainkan juga bagi kru dan band pengiring yang terlibat langsung dalam pertunjukan.

Afgansyah Reza

Afgan dikenal memiliki rider yang relatif sederhana, terutama berkaitan dengan konsumsi. Dalam beberapa kesempatan, rider Afgan mencantumkan permintaan berbagai jenis makanan seperti pizza, nasi goreng, hingga aneka mi.

Menariknya, Afgan menyebut makanan tersebut bukan untuk dikonsumsi olehnya sebelum tampil, mengingat jenis makanan tertentu berisiko memengaruhi kondisi tenggorokan. Hidangan tersebut lebih diperuntukkan bagi kru yang mendampinginya selama acara berlangsung.

Baca Juga: Profil dan Perjalanan Karier Yuni Shara, Penyanyi Lawas dengan Eksistensinya yang Tak Pernah Pudar

Ia juga sempat menepis rumor mengenai rider ekstrem, seperti permintaan ruangan penuh colokan atau larangan keberadaan orang yang lebih tinggi darinya di atas panggung. Meski demikian, Afgan tetap dikenal teliti dalam aspek teknis audio guna menjaga karakter vokalnya tetap konsisten di setiap penampilan.

Agnez Mo

Agnez Mo kerap disebut sebagai salah satu artis Indonesia dengan rider paling detail. Dalam sejumlah wawancara, ia mengungkapkan bahwa daftar ridernya bisa mencapai sembilan hingga sepuluh halaman, mencakup preferensi personal hingga kebutuhan teknis yang sangat spesifik.

Untuk konsumsi, Agnez dikenal selalu meminta nasi Padang sebagai menu wajib di backstage, serta kopi dengan metode penyajian tertentu yang menjadi bagian dari ritualnya sebelum tampil. Selain itu, rider-nya juga memuat standar teknis panggung yang menunjang performa vokal dan koreografi, termasuk struktur panggung yang kokoh dan aman.

Baca Juga: Agnez Mo dan Perjalanan Kariernya di Panggung Musik hingga Go Internasional

Pengalaman panjang Agnez di industri hiburan internasional membentuk standar produksinya, yang diterapkan secara konsisten baik di dalam maupun luar negeri.

NOAH

Grup band NOAH dikenal memiliki rider yang lebih menitikberatkan pada kebutuhan teknis dan logistik. Permintaan mereka umumnya mencakup sistem tata suara yang stabil, pengaturan monitor panggung, serta transportasi dari dan menuju lokasi konser.

Sebagai band dengan format instrumen lengkap, koordinasi teknis menjadi aspek krusial dalam setiap penampilan NOAH. Rider tersebut mencerminkan komitmen mereka terhadap kualitas suara dan kesiapan teknis demi menghadirkan pertunjukan yang solid.

Baca Juga: Dihibur Ari Lasso hingga Dewa 19, Ribuan Alumni STAN Ramaikan Reuni Akbar 2025

Dewa 19

Sebagai band legendaris yang kerap menggelar konser berskala besar, riders Dewa 19 tergolong luas dan kompleks. Dokumen rider yang pernah beredar menyebutkan adanya ketentuan teknis panggung, sistem keselamatan, hingga aspek administratif seperti persyaratan produksi dan pembayaran.

Dengan formasi besar dan kebutuhan produksi yang tinggi, Dewa 19 menuntut standar tata suara, pencahayaan, serta mekanisme kerja yang terukur. Rider tersebut menjadi jaminan agar setiap konser berlangsung sesuai standar produksi profesional yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Di balik anggapan rider yang “merepotkan”, permintaan detail para musisi sejatinya mencerminkan upaya menjaga kualitas pertunjukan. Bagi EO dan promotor, memahami kebutuhan ini menjadi bagian dari kerja profesional demi menghadirkan pengalaman konser terbaik bagi penonton.