3. Terus Tanyakan 'Apa Peluang di Sini?'
Krisis sering datang tiba-tiba dan terasa melumpuhkan. Namun, Sharma menekankan pentingnya terus mencari peluang di balik setiap kesulitan.
Sejarah membuktikan bahwa banyak terobosan besar lahir dari krisis, seperti PHK melahirkan startup, pandemi mempercepat pertumbuhan e-commerce.
Ia menyarankan ritual WTOH (What’s The Opportunity Here) setiap hari, mencakup catat tiga hal positif tersembunyi dari situasi yang sedang dihadapi.
Ingat, kebutaan terhadap peluang menciptakan korban, sementara mereka yang berburu secercah harapan mampu membangun kerajaan.
4. Saat yang Lain Mundur, Teruslah Berinovasi dan Melayani
Resesi dan krisis adalah momen yang 'menobatkan' para pemimpin sejati. Ketika pesaing memilih bermain aman, Sharma justru mendorong untuk berinovasi secara berani.
“Pemain yang aman kalah, pencipta yang berani menang,” tegasnya.
Sejarah membuktikan, banyak raksasa lahir di masa gelap, seperti Disney tumbuh di era Depresi Besar, Amazon justru berlipat ganda saat krisis 2008.
Fokuslah pada pelayanan, seperti bantu komunitas, dengarkan pelanggan, selesaikan masalah nyata.
Webinar gratis, panggilan pelanggan, atau berbagi nilai di media sosial bisa membangun loyalitas sekaligus arus kas. Saat jalan pesaing kosong, itulah jalan paling jelas untuk melaju.
5. Ingatlah 'Ini pun Akan Berlalu'
Di tengah tekanan, Sharma mengingatkan satu mantra sederhana namun kuat, yakni ini pun akan berlalu.
Masa sulit memang terasa abadi, tetapi tidak pernah benar-benar permanen.
Latih rasa syukur setiap hari. Hitung lima 'kemenangan kecil' seperti menghabiskan waktu dengan keluarga, menerima pesan baik, atau sekadar memiliki orang yang peduli. Bahkan hal kecil layak dirayakan.
Sebuah studi tahun 2017 menunjukkan bahwa meditasi rasa syukur selama delapan minggu dapat menurunkan aktivasi amigdala, pusat rasa takut di otak.
Artinya, bersyukur bukan hanya menenangkan hati, tetapi juga menyehatkan pikiran.