Memperingati Bulan Kesadaran Autisme Sedunia, ada satu hal penting yang mulai disadari banyak orang tua, yaitu sekolah yang "aman" itu ternyata tidak hanya soal bebas dari perundungan atau kekerasan fisik saja.
Untuk anak-anak neurodivergent, seperti mereka yang autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman memiliki makna yang lebih dalam. Sejalan dengan aturan baru pemerintah (Permendikdasmen No. 6/2026), pusat edukasi inklusif Atelier of Minds di Jakarta Selatan menekankan perlunya pendekatan neuro-affirming.
Apa Itu Neuro-affirming?
Singkatnya, ini adalah lingkungan yang tidak memaksa anak untuk "berpura-pura normal" atau melakukan masking. Apakah pernah terpikir betapa lelahnya seorang anak yang harus menutupi jati dirinya seharian di sekolah supaya dianggap "sama" dengan temannya? Itu sangat menguras emosi dan mental mereka.
Ries Sansani dari Atelier of Minds menjelaskan kalau rasa aman itu muncul saat kebutuhan sensori anak terpenuhi. Kalau anak dipaksa disiplin secara kaku tanpa dipahami cara kerja otaknya, mereka malah akan stres.
“Rasa aman muncul ketika anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut disalahpahami. Dalam perspektif Occupational Therapy, regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan mendukung kebutuhan sensori mereka,” ujar Ries Sansani.
Kolaborasi Global untuk Indonesia
Kabar baiknya, saat ini Atelier of Minds bekerja sama dengan Agape Psychology dari Singapura. Tujuannya untuk membawa praktik terbaik dari Singapura ke Indonesia agar anak-anak kita bisa berkembang secara sosial dan emosional tanpa kehilangan jati diri mereka.
3 Langkah Simpel Mulai dari Sekolah
Ries membagikan tips praktis yang bisa mulai diterapkan di sekolah:
- Keamanan Sensori: Sediakan ruang tenang atau headphone peredam suara buat anak yang sensitif terhadap bising.
- Kolaborasi, Bukan Kepatuhan: Jangan langsung menghukum perilaku "aneh". Coba pahami apa yang ingin anak sampaikan lewat perilaku itu.
- Edukasi Teman Sebaya: Ajarkan anak-anak lain kalau cara kerja otak itu beda-beda. Ada yang seperti Windows, ada yang seperti Mac. Sama-sama bagus, tetapi beda sistem operasinya.
Seperti kata Wina Natalia, seorang ibu dari anak neurodivergent, ketakutan terbesar orang tua bukan cuma bullying, tapi saat anak dipaksa berubah demi bisa diterima.
“Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa mengubah dirinya agar bisa diterima,” ungkap Wina Natalia.
“Ketika menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar benar dilihat, didengar, dan dihargai,” pungkasnya.