Growthmates, membangun kekayaan tidak selalu harus dimulai dari investasi. Content creator sekaligus entrepreneur, Theo Derick, menilai, ada tahapan yang perlu dibangun terlebih dahulu sebelum seseorang mulai mengalokasikan uangnya ke berbagai instrumen investasi.

Menurut Theo, terdapat tiga 'engine' utama yang dapat menjadi fondasi seseorang untuk meningkatkan kondisi finansial. Tahap pertama adalah memperbesar kemampuan menghasilkan pendapatan atau earnings power.

“Konsep tambah kaya cuma tiga engine, gue selalu ngomong. Engine 1, ketika kita merintis dari awal, fokuslah di earnings power,” terang Theo, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya, Jumat (4/9/2026).

Pada tahap awal, Theo mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru mengikuti ajakan berinvestasi ketika kemampuan menghasilkan pendapatannya sendiri masih belum optimal.

Theo bilang, meningkatkan penghasilan justru menjadi langkah yang lebih fundamental untuk mengubah kondisi keuangan.

“Kalau teman lu ngajakin, wah lu dapet kerja, ayo dong invest sana sini. Bullshit, ntar dulu. Ini dulu nih, penghasilan per bulan lu dulu. Either lu besarin atau lu tambahin sumbernya,” tegasnya.

Setelah kemampuan menghasilkan pendapatan meningkat, tahap berikutnya adalah membangun kebiasaan mengelola uang. Theo menyebutnya sebagai engine kedua, yakni membangun kebiasaan untuk selalu memiliki surplus dari penghasilan yang diterima.

“Begitu udah dapet, kita masuk engine 2. Engine 2 ini begitu dapet, what's next? Habit kita ngapain? Alokasi kita gimana? Simple, di sini yang kita harus bangun adalah habit terbiasa surplus,” jelas Theo.

Theo pun lantas memberikan ilustrasi sederhana mengenai konsep tersebut.

Ketika seseorang memperoleh penghasilan Rp20 juta dalam sebulan, misalnya, tidak seluruh pendapatan harus dihabiskan. Sebagian perlu disisihkan sehingga tercipta surplus yang konsisten.

“Surplus dalam artian, oh dapet 20 juta, aku pake 10, surplus 10. Jadiin itu habit dulu,” katanya.

Baca Juga: Cara Sederhana Mengembangkan Diri dan Karier ala Theo Derick

Menurut Theo, kebiasaan tersebut perlu dibangun hingga seseorang merasa tidak nyaman ketika tidak berhasil menghasilkan surplus dalam satu bulan.

Bagi Theo, kondisi itu justru menjadi salah satu tanda bahwa fondasi finansial mulai terbentuk.

“Sampai satu momen, gila ya bulan ini gue gak surplus nih, gak enak ya. Itu berarti lu udah siap tambah kaya tuh,” tuturnya.

Theo menuturkan, kebiasaan memiliki surplus kemudian menjadi jembatan menuju engine ketiga, yakni investasi. Ketika seseorang sudah mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar dan terbiasa menyisakan uang, terdapat dana yang dapat dialokasikan untuk membangun aset.

“Habit surplusnya udah kebangun, allocating berarti kan ada duit nganggur yang nambah terus. Fondasi keuangan ada. Inilah masa kita mulai investasi,” ujar Theo.

Namun, Theo menekankan bahwa tujuan investasi bukan sekadar mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Lebih dari itu, investasi seharusnya menjadi bagian dari perjalanan untuk mengubah sumber penghasilan dari yang semula bergantung pada aktivitas aktif menjadi lebih pasif.

“Goalsnya bukan masalah cuan-cuanan gede-gedean, enggak. Goalsnya adalah sepanjang perjalanan ini kita ubah dari aktif jadi pasif,” jelasnya.

Lebih jauh, menurut Theo, ukuran kekayaan bukan semata-mata terlihat dari barang yang dimiliki atau seberapa mewah gaya hidup seseorang.

Kekayaan justru berkaitan erat dengan kebebasan seseorang dalam menentukan bagaimana ia menjalani hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada pekerjaan aktif.

“Lu boleh pake mobil biasa aja, tapi besok lu gak mau kerja, hidup lu tidak terikat di sana. Merdeka itu real definition of freedom,” tandas Theo.

Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor