Daniel Ek dikenal sebagai co-founder sekaligus CEO Spotify, layanan streaming yang mengubah cara miliaran orang menikmati musik di seluruh dunia.  Di balik kesuksesan tersebut, ada satu kebiasaan penting yang terus ia pertahankan, yaitu membaca.

Ek gemar membaca buku tentang strategi bisnis, teknologi, psikologi, hingga sejarah dan perilaku manusia.

Pilihan bacaannya memperlihatkan bagaimana ia membangun cara berpikir, mengambil keputusan besar, dan merancang strategi jangka panjang di tengah industri yang sangat kompetitif.

Daftar buku yang ia rekomendasikan di bawah ini pun menjadi semacam peta mental bagi siapa pun yang ingin membangun sesuatu yang berdampak besar.

Dikutip dari Times Now News, Rabu (11/2/2026), berikut 12 buku yang membentuk cara berpikir Daniel Ek.

1. The Alchemist karya Paulo Coelho

Novel klasik ini mengikuti perjalanan Santiago, seorang gembala muda yang mengejar mimpi menemukan harta karun di Mesir.

Sepanjang perjalanan, ia bertemu berbagai tokoh yang membimbingnya memahami tujuan hidupnya sendiri.

Kisah ini menekankan pentingnya mengikuti intuisi, membaca tanda-tanda kehidupan, serta memahami bahwa perjalanan menuju mimpi sering kali lebih berharga daripada tujuan akhirnya.

2. 7 Powers karya Hamilton Helmer

Buku strategi bisnis ini menjelaskan tujuh sumber keunggulan kompetitif yang membuat perusahaan mampu bertahan dan unggul dalam jangka panjang, seperti efek jaringan, skala ekonomi, hingga kekuatan merek.

Melalui berbagai studi kasus perusahaan teknologi dan industri besar, Helmer menunjukkan bagaimana perusahaan dapat membangun posisi yang sulit ditiru pesaing.

3. Black Box Thinking karya Matthew Syed

Matthew Syed membandingkan industri penerbangan yang secara terbuka mempelajari kesalahan melalui ‘kotak hitam’ dengan dunia medis yang sering defensif terhadap kegagalan.

Pesan utamanya jelas: kemajuan hanya bisa terjadi jika kesalahan dianalisis, bukan disembunyikan.

Organisasi yang belajar dari kegagalan cenderung berkembang lebih cepat dibanding mereka yang menutupinya.

4. Hit Men karya Fredric Dannen

Buku investigatif ini membongkar sisi gelap industri musik Amerika pada 1970–1980-an, termasuk praktik suap, manipulasi radio, hingga keterlibatan mafia dalam promosi musik.

Kisah ini menunjukkan kerasnya bisnis musik serta bagaimana para artis sering kali tak berdaya menghadapi sistem industri besar.

5. Bass Culture karya Lloyd Bradley

Bradley menelusuri perjalanan musik reggae dari budaya sound system Jamaika hingga pengaruhnya terhadap hip-hop dan musik elektronik global.

Buku ini memperlihatkan bagaimana musik menjadi ekspresi sosial dan politik, sekaligus menjelaskan bagaimana budaya lokal dapat berkembang menjadi fenomena dunia.

6. Poor Charlie’s Almanack disunting Peter D. Kaufman

Buku ini mengumpulkan pemikiran Charlie Munger, mitra bisnis Warren Buffett, mengenai pengambilan keputusan dan model mental lintas disiplin.

Munger menekankan pentingnya memahami psikologi, ekonomi, sejarah, dan ilmu lain secara bersamaan agar keputusan bisnis menjadi lebih matang dan tidak sempit.

7. Leading karya Alex Ferguson & Michael Moritz

Sir Alex Ferguson berbagi pelajaran kepemimpinan selama 26 tahun memimpin Manchester United menjadi salah satu klub sepak bola paling sukses di dunia.

Buku ini membahas bagaimana membangun budaya kemenangan, mengelola ego pemain bintang, melakukan regenerasi tim, dan mempertahankan standar tinggi setelah sukses besar.

8. Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond

Jared Diamond menjelaskan bagaimana faktor geografis dan lingkungan, bukan kecerdasan ras tertentu, membentuk dominasi peradaban dunia selama ribuan tahun.

Buku ini membantu pembaca memahami bagaimana sejarah, teknologi, dan kekuasaan berkembang melalui kondisi alam dan sumber daya.

9. Good to Great karya Jim Collins

Jim Collins meneliti perusahaan yang berhasil naik dari performa biasa menjadi perusahaan luar biasa dalam jangka panjang.

Ia menemukan pola penting seperti kepemimpinan rendah ego namun kuat, disiplin organisasi, serta strategi yang fokus pada kekuatan utama perusahaan.

10. Raising Girls karya Steve Biddulph

Psikolog Steve Biddulph memberikan panduan bagi orang tua dalam membesarkan anak perempuan, mulai dari masa kanak-kanak hingga remaja.

Buku ini membahas isu kepercayaan diri, tekanan sosial, citra tubuh, dan pentingnya komunikasi keluarga dalam mendukung perkembangan anak perempuan.

11. The Minefield Girl karya Sofia Ek

Memoar ini menceritakan masa kecil Sofia Ek di Bosnia saat perang 1990-an dan perjuangannya menjadi pengungsi di Swedia.

Kisahnya menggambarkan dampak perang terhadap kehidupan anak-anak serta perjuangan membangun kembali hidup di negara baru sambil membawa trauma masa lalu.

12. Sapiens karya Yuval Noah Harari

Harari menelusuri perjalanan manusia dari spesies kecil hingga menjadi penguasa planet melalui tiga revolusi besar: kognitif, pertanian, dan ilmiah.

Ia menyoroti bagaimana kemampuan manusia mempercayai konsep abstrak seperti uang, negara, dan agama memungkinkan kerja sama massal yang membentuk peradaban modern.

Nah Growthmates, daftar bacaan Daniel Ek di atas menunjukkan pola yang jelas, yaitu ia memilih buku yang menantang cara berpikir lama sekaligus memberi kerangka berpikir baru yang bisa diterapkan.

Buku-buku ini tidak hanya berbicara soal bisnis, tetapi juga psikologi, sejarah, budaya, hingga kemanusiaan. Semua itu membentuk perspektifnya yang lebih luas dalam mengambil keputusan. Tertarik membacanya juga?