Growthmates, bulan kedua tahun 2026 adalah saat yang tepat untuk meninjau kembali cara kita berpikir, bekerja, dan menjalani hidup.

Di tengah batas yang semakin kabur antara kehidupan pribadi dan profesional, banyak orang membutuhkan panduan yang lebih mendalam daripada sekadar motivasi sesaat.

Buku-buku pengembangan diri yang tepat dapat membantu membangun ketahanan mental, memperbaiki hubungan dengan uang, hingga membentuk kebiasaan kecil yang berdampak besar.

Dan, sepuluh buku di bawah ini menawarkan perspektif baru tentang kegagalan, kesehatan mental, produktivitas, hubungan, dan keseimbangan hidup.

Buku-buku ini dapat menjadi kompas bagi siapa pun yang ingin membangun kehidupan yang tidak hanya terlihat baik dari luar, tetapi juga terasa utuh dari dalam.

1. How to Fail karya Elizabeth Day

Buku ini mengajak pembaca melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. Elizabeth Day membalik narasi kesuksesan konvensional dengan menunjukkan bahwa kegagalan justru sering menjadi titik awal pertumbuhan.

Melalui kisah pribadi dan pengalaman para narasumber dalam podcast-nya, Day menunjukkan bahwa penolakan dan kemunduran bukanlah akhir perjalanan.

Buku ini membantu pembaca menerima kerentanan sekaligus membangun ketahanan untuk menghadapi dunia yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

2. Speak Your Truth karya Fearne Cotton

Fearne Cotton menyoroti pentingnya menemukan dan menggunakan suara autentik di tengah tekanan untuk selalu menyesuaikan diri.

Ia menjelaskan bagaimana menekan perasaan dan kebutuhan pribadi dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.

Buku ini mengajak pembaca berani mengekspresikan diri, menetapkan batasan, dan berkomunikasi secara jujur.

Dengan berbagi pengalamannya menghadapi kecemasan dan sorotan publik, Cotton menawarkan pendekatan yang hangat dan praktis untuk membangun kepercayaan diri.

3. The Discomfort Zone karya Farrah Storr

Farrah Storr berpendapat bahwa perkembangan terbesar justru terjadi saat seseorang keluar dari zona nyaman. Buku ini menunjukkan bagaimana momen-momen singkat yang menantang dapat mempercepat pertumbuhan pribadi dan profesional.

Dengan strategi yang aplikatif, pembaca diajak mengatasi rasa takut, keraguan, dan kebiasaan menunda. Menghadapi ketidaknyamanan secara sadar dapat membuka peluang baru bagi kreativitas dan kepercayaan diri.

4. Get Your Sh*t Together karya Sarah Knight

Bagi mereka yang merasa kewalahan dengan tuntutan hidup, buku Sarah Knight menawarkan pendekatan yang lugas sekaligus menghibur.

Mengusung filosofi No F*cks Given, Knight membantu pembaca memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting.

Buku ini membahas pengelolaan waktu, uang, dan energi emosional dengan cara yang praktis. Pesan utamanya sederhana, yakni berhenti memikirkan apa yang seharusnya dilakukan dan mulai fokus pada apa yang benar-benar ingin dicapai.

5. Just One Thing karya Michael Mosley

Michael Mosley menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan langkah drastis. Buku ini menekankan kekuatan kebiasaan kecil yang konsisten dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

Mulai dari konsumsi makanan fermentasi hingga mandi air dingin, Mosley menawarkan berbagai kebiasaan sederhana yang hanya membutuhkan beberapa menit sehari. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang memiliki jadwal padat tetapi tetap ingin hidup lebih sehat.

6. Why Am I Like This? karya Gemma Styles

Gemma Styles mengulas kesehatan mental dan neurodiversitas dengan pendekatan yang empatik dan mudah dipahami. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara unik dalam memproses dunia di sekitarnya.

Melalui perpaduan kisah pribadi dan wawasan para ahli, buku ini membantu mengurangi stigma terhadap kondisi mental dan perbedaan neurologis.

Pembaca diajak untuk lebih memahami diri sendiri sekaligus membangun sikap welas asih terhadap pengalaman batin mereka.

7. Financial Wellness And How To Find It karya Melanie Eusebe

Melanie Eusebe menekankan bahwa kesehatan finansial bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang hubungan emosional seseorang dengan uang.

Buku ini menawarkan pendekatan menyeluruh yang mencakup pola pikir, penganggaran, dan perencanaan jangka panjang.

Pembaca dibimbing untuk menyelaraskan pengeluaran dengan nilai hidup serta mengurangi kecemasan terkait utang dan ketidakpastian ekonomi.

Buku ini menjadi panduan praktis menuju kestabilan finansial dan ketenangan pikiran.

8. Out of Office karya Anne Helen Petersen & Charlie Warzel

Buku ini membahas perubahan besar dalam dunia kerja modern, terutama setelah meningkatnya praktik kerja jarak jauh. Anne Helen Petersen dan Charlie Warzel mengulas bagaimana budaya kerja berlebihan sering ikut terbawa ke dalam kehidupan pribadi.

Selain mengkritisi sistem kerja modern, buku ini juga menawarkan visi masa depan yang lebih seimbang. Pembaca diajak memikirkan kembali hubungan antara pekerjaan dan identitas pribadi.

9. The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry

Philippa Perry menghadirkan panduan tentang hubungan yang berakar pada pemahaman emosional. Meski berfokus pada pengasuhan anak, buku ini juga membahas bagaimana pengalaman masa kecil memengaruhi hubungan kita saat dewasa.

Dengan menekankan pentingnya empati dan validasi emosi, Perry membantu pembaca membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak, pasangan, maupun diri sendiri. Buku ini relevan bagi siapa pun yang ingin memutus pola hubungan yang tidak sehat.

10. Stop Lying to Yourself karya Simon Gilham

Simon Gilham menawarkan pendekatan yang jujur dan langsung melalui 101 refleksi singkat tentang kebenaran yang sering dihindari.

Buku ini menantang pembaca untuk berhenti membuat alasan dan mulai bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Setiap bagian dirancang sebagai dorongan untuk melakukan perubahan nyata, terutama bagi mereka yang merasa jenuh dengan motivasi kosong tanpa tindakan.