6. Men Explain Things to Me karya Rebecca Solnit
Buku ini menjadi pemantik diskusi global tentang fenomena 'mansplaining'. Rebecca Solnit dengan cerdas mengurai bagaimana perempuan kerap diremehkan dalam percakapan sehari-hari, dan mengaitkannya dengan struktur kekuasaan yang lebih luas.
Esai-esainya membuka mata tentang ketidaksetaraan yang sering dianggap sepele.
7. I Am Malala karya Malala Yousafzai
Memoar inspiratif ini menceritakan perjuangan Malala Yousafzai dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi anak perempuan.
Dari Lembah Swat hingga panggung dunia, kisahnya adalah bukti nyata bahwa keberanian satu suara dapat menggerakkan perubahan global.
8. Girl, Woman, Other karya Bernardine Evaristo
Novel pemenang Booker Prize ini menghadirkan dua belas karakter dengan latar belakang beragam.
Bernardine Evaristo mengeksplorasi identitas, ras, gender, dan relasi antargenerasi dengan gaya penceritaan yang unik. Buku ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan tidak tunggal, melainkan berlapis dan saling terhubung.
9. A Room of One’s Own karya Virginia Woolf
Melalui esai klasik ini, Virginia Woolf menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan ruang pribadi bagi perempuan untuk berkarya.
Dengan gaya yang elegan dan reflektif, ia mempertanyakan mengapa suara perempuan lama terpinggirkan dalam dunia sastra dan bagaimana hal itu bisa diubah.
10. The Moment of Lift karya Melinda French Gates
Melinda French Gates mengajak pembaca melihat bagaimana pemberdayaan perempuan berdampak langsung pada kemajuan sosial dan ekonomi.
Berangkat dari pengalaman filantropinya, ia menyajikan kisah nyata perempuan di berbagai negara yang berjuang untuk akses pendidikan, kesehatan, dan kemandirian.
Baca Juga: 5 Penulis Perempuan yang 'Meramalkan' Krisis Dunia Melalui Buku Mereka