Pendekatan kreatif tersebut juga dinilai penting untuk membuat pesan mengenai kesehatan jantung lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan, mengatakan masyarakat perlu lebih peka terhadap kondisi tubuh dan tidak menyepelekan gejala tertentu.
“Penyakit jantung sering disebut sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala yang jelas. Filosofi ‘Don’t Miss A Beat’ ingin mengingatkan publik untuk lebih peka terhadap tubuh sendiri—jangan sepelekan nyeri dada, sesak, atau kelelahan yang tidak wajar. Melalui kolaborasi ini, kami ingin pesan kesehatan jantung terasa lebih dekat, tidak menakutkan, dan mudah dipahami. Jangan lewatkan satu detak pun untuk menjaga kesehatan, dan jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi bagi anak-anak penderita penyakit jantung bawaan,” kata Iwet.
Ketiga desainer kemudian membawa karakter masing-masing ke dalam kampanye 'DETAK'. AMOTSYAMSURIMUDA, label yang didirikan Achmad Syamsuri Muda pada 2017, dikenal dengan pendekatan desain yang dekat dengan kehidupan urban. Berbekal pendidikan fashion di LaSalle College of the Arts, Singapura, serta pengalaman sebagai fashion stylist, designer, dan creative director, Amot menerjemahkan tema “PEDULI” melalui siluet yang tegas, ekspresif, dan kontemporer.
Berbeda dengan itu, GLASHKA yang didirikan Ega Augustia pada 2018 menghadirkan pendekatan modest wear melalui perpaduan siluet kontemporer, bordir manual, dan material natural.
Dalam kolaborasi ini, GLASHKA mempersembahkan 'JUMPA PERTAMA', koleksi yang terinspirasi dari gagasan mengenai pertemuan, awal yang baru, serta kenangan yang terus melekat. Konsep tersebut menjadi metafora tentang sebuah awal kehidupan yang ditandai oleh detak pertama jantung.
Sementara itu, RINDA SALMUN menghadirkan pendekatan eksperimental melalui eksplorasi bentuk, tekstur, ilustrasi, hingga manipulasi material. Lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung dan Ravensbourne College of Design & Communication, London, tersebut membawa koleksi bertajuk 'Reconstructed | New Form'.
Karyanya mengeksplorasi hubungan antara material, tailoring, dan rekonstruksi bentuk sebagai metafora tentang jantung yang terus beradaptasi, pulih, dan menemukan bentuk baru.
Melalui 'DETAK', fashion tidak hanya ditempatkan sebagai medium ekspresi visual, tetapi juga sebagai sarana untuk membawa pesan kesehatan dan kepedulian sosial kepada publik. Di balik warna merah dan eksplorasi desain yang ditampilkan, terdapat ajakan untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung, mengenali tanda-tandanya, serta menjaganya sejak dini.
Pada saat yang sama, kolaborasi ini mengingatkan bahwa satu detak bukan hanya tentang kehidupan yang terus berjalan, tetapi juga tentang kesempatan untuk memberikan perhatian dan dukungan kepada anak-anak dengan penyakit jantung bawaan yang membutuhkan akses terhadap pengobatan.
Baca Juga: ‘Don’t Miss A Beat’, Seruan YJI di Hari Jantung Sedunia 2025