Dalam konteks warteg fancy, lanjut Prof. Ujang, perubahan konsep tersebut pada akhirnya juga berdampak terhadap harga.
Dengan menawarkan tempat dan pengalaman yang berbeda, harga makanan yang lebih tinggi dibandingkan warteg konvensional dinilai masih dapat diterima selama konsumen merasa mendapatkan nilai yang sepadan.
Prof. Ujang menjelaskan, harga juga memiliki kaitan dengan persepsi konsumen terhadap kualitas. Harga yang lebih tinggi dapat dipandang sebagai sinyal bahwa produk atau layanan yang diberikan memiliki kualitas lebih baik. Sebaliknya, harga yang terlalu murah dalam kondisi tertentu justru dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas.
“Ketika harga lebih tinggi, konsumen cenderung menganggap kualitas produk dan layanan juga lebih baik. Sebaliknya, harga yang terlalu murah justru bisa menimbulkan kecurigaan,” jelasnya.
Meski demikian, popularitas warteg fancy belum tentu menjamin konsep tersebut akan bertahan dalam jangka panjang. Seperti tren kuliner lainnya, keberlangsungannya tetap bergantung pada respons konsumen dan kemampuan pelaku usaha mempertahankan relevansi.
Menurut Prof. Ujang, bisnis makanan dan minuman memiliki siklus tren yang relatif cepat. Konsep yang menarik perhatian konsumen hari ini bisa saja kehilangan daya tarik ketika muncul konsep baru yang dianggap lebih relevan.
“Semuanya ditentukan oleh respons konsumen. Jika responsnya positif, konsep ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Namun jika tidak, sangat mungkin tren ini hanya bersifat sementara,” katanya.
Ia menilai enam bulan pertama dapat menjadi periode penting bagi pelaku usaha untuk membaca respons pasar terhadap sebuah konsep. Pada periode tersebut, pelaku usaha dapat melihat apakah konsumen hanya datang karena rasa penasaran atau benar-benar menjadikan tempat tersebut sebagai pilihan untuk dikunjungi kembali.
Di tengah perilaku konsumen yang semakin dinamis, inovasi pun tidak bisa berhenti pada perubahan desain atau sekadar mengikuti tren. Pelaku usaha perlu terus memahami kebutuhan konsumen, mengevaluasi pengalaman yang diberikan, serta mencari pembeda yang tetap relevan.
“Bisnis kuliner harus terus berinovasi. Konsumen akan selalu membandingkan dan mencari pengalaman baru. Di situlah tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha,” pungkas Prof. Ujang.
Baca Juga: Tren Glass Skin dan Risiko Terlalu Banyak Skincare, Ini yang Perlu Diperhatikan