Growthmates, warteg selama ini identik dengan konsep sederhana, pilihan menu beragam, dan harga yang relatif terjangkau. Namun, belakangan muncul fenomena baru berupa “warteg fancy” yang mengusung konsep lebih modern, mulai dari tampilan tempat, kenyamanan, hingga pengalaman bersantap.
Kemunculan konsep tersebut di berbagai kota menunjukkan bahwa bisnis kuliner terus beradaptasi mengikuti perubahan perilaku konsumen. Guru Besar Ilmu Konsumen IPB University, Prof. Ujang Sumarwan, menilai, fenomena warteg fancy merupakan bentuk kreativitas pelaku usaha dalam merespons kebutuhan pasar yang terus berubah.
Dikatakan Prof. Ujang, konsumen pada dasarnya selalu mencari sesuatu yang baru. Kondisi tersebut kemudian mendorong pelaku usaha kuliner untuk menghadirkan inovasi, bukan hanya dari sisi makanan, tetapi juga dari pengalaman yang ditawarkan.
“Konsumen selalu menginginkan hal-hal baru. Warteg fancy ini adalah bentuk kreativitas pengusaha dalam memenuhi kebutuhan tersebut,” terang Prof. Ujang, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Jumat (9/10/2026).
Prof. Ujang melanjutkan, ketertarikan konsumen terhadap konsep warteg fancy tidak muncul karena satu faktor saja.
Ada kebutuhan fungsional yang dipadukan dengan aspek kenyamanan, estetika, hingga citra sosial. Karena itu, inovasi dalam bisnis kuliner perlu dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun nonfisik.
Dari sisi fisik, misalnya, pelaku usaha dapat menghadirkan desain tempat yang lebih menarik dan nyaman. Sementara dari sisi nonfisik, peningkatan kualitas pelayanan juga dapat menjadi pembeda di tengah semakin banyaknya pilihan tempat makan.
“Konsumen akan membandingkan berbagai pilihan tempat makan. Mereka mencari sesuatu yang baru, nyaman, dan tetap terjangkau. Di sinilah terjadi pertemuan antara kebutuhan konsumen dan strategi pelaku usaha,” jelasnya.
Perubahan tersebut juga memperlihatkan bahwa keputusan konsumen dalam memilih tempat makan tidak selalu ditentukan oleh rasa dan harga. Pengalaman yang diperoleh selama berada di tempat makan dapat ikut memengaruhi keputusan, termasuk kesediaan konsumen untuk mengeluarkan uang lebih.
“Ketika konsumen merasa cocok dengan rasa dan tempat, harga sering kali menjadi nomor dua. Konsumen bersedia mengeluarkan anggaran lebih untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda,” ungkap Prof. Ujang.
Menurutnya, fenomena tersebut semakin relevan dengan karakteristik konsumen muda, termasuk generasi Z, yang cenderung memperhatikan pengalaman ketika mengonsumsi sebuah produk atau menggunakan sebuah layanan. Tempat yang nyaman, menarik secara visual, dan memiliki suasana 'cozy' dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum mereka memilih tempat makan.
Baca Juga: Tren Fiber Maxxing Ramai di Media Sosial, Berapa Banyak Serat yang Dibutuhkan Tubuh? Ini Kata Pakar
Dalam konteks warteg fancy, lanjut Prof. Ujang, perubahan konsep tersebut pada akhirnya juga berdampak terhadap harga.
Dengan menawarkan tempat dan pengalaman yang berbeda, harga makanan yang lebih tinggi dibandingkan warteg konvensional dinilai masih dapat diterima selama konsumen merasa mendapatkan nilai yang sepadan.
Prof. Ujang menjelaskan, harga juga memiliki kaitan dengan persepsi konsumen terhadap kualitas. Harga yang lebih tinggi dapat dipandang sebagai sinyal bahwa produk atau layanan yang diberikan memiliki kualitas lebih baik. Sebaliknya, harga yang terlalu murah dalam kondisi tertentu justru dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas.
“Ketika harga lebih tinggi, konsumen cenderung menganggap kualitas produk dan layanan juga lebih baik. Sebaliknya, harga yang terlalu murah justru bisa menimbulkan kecurigaan,” jelasnya.
Meski demikian, popularitas warteg fancy belum tentu menjamin konsep tersebut akan bertahan dalam jangka panjang. Seperti tren kuliner lainnya, keberlangsungannya tetap bergantung pada respons konsumen dan kemampuan pelaku usaha mempertahankan relevansi.
Menurut Prof. Ujang, bisnis makanan dan minuman memiliki siklus tren yang relatif cepat. Konsep yang menarik perhatian konsumen hari ini bisa saja kehilangan daya tarik ketika muncul konsep baru yang dianggap lebih relevan.
“Semuanya ditentukan oleh respons konsumen. Jika responsnya positif, konsep ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Namun jika tidak, sangat mungkin tren ini hanya bersifat sementara,” katanya.
Ia menilai enam bulan pertama dapat menjadi periode penting bagi pelaku usaha untuk membaca respons pasar terhadap sebuah konsep. Pada periode tersebut, pelaku usaha dapat melihat apakah konsumen hanya datang karena rasa penasaran atau benar-benar menjadikan tempat tersebut sebagai pilihan untuk dikunjungi kembali.
Di tengah perilaku konsumen yang semakin dinamis, inovasi pun tidak bisa berhenti pada perubahan desain atau sekadar mengikuti tren. Pelaku usaha perlu terus memahami kebutuhan konsumen, mengevaluasi pengalaman yang diberikan, serta mencari pembeda yang tetap relevan.
“Bisnis kuliner harus terus berinovasi. Konsumen akan selalu membandingkan dan mencari pengalaman baru. Di situlah tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha,” pungkas Prof. Ujang.
Baca Juga: Tren Glass Skin dan Risiko Terlalu Banyak Skincare, Ini yang Perlu Diperhatikan