TransitionZero, organisasi nirlaba di bidang climate tech, resmi meluncurkan upgrade terbaru untuk Scenario Builder, platform pemodelan sistem energi no code andalannya. ASEAN menjadi kawasan pertama yang mendapatkan fitur pemodelan multi-negara ini secara langsung di Scenario Builder, mencakup 10 negara dengan 25 node di seluruh Asia Tenggara dalam satu model terintegrasi.
Dengan hadirnya fitur ini, pengguna di Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Tailan, Vietnam, Myanmar, Laos, Brunei, dan Kamboja kini memiliki akses ke lingkungan pemodelan open access yang dirancang khusus untuk analisis sistem kelistrikan regional secara menyeluruh. Upgrade ini memungkinkan para perencana energi di seluruh Asia Tenggara untuk memodelkan sistem kelistrikan lintas batas dalam satu platform yang sama, mendukung alur kerja perencanaan yang lebih cepat, asumsi yang lebih konsisten antar negara, serta pengambilan keputusan investasi lintas batas yang lebih solid dan berbasis data.
Baca Juga: Badan Ekspor Bisa Jadi Batu Sandungan Ambisi Transisi Energi Prabowo
“Perencanaan jaringan listrik regional di ASEAN telah memasuki fase baru. Diskusinya kini sudah bergeser dari sekadar pertanyaan apakah perlu membangun interkoneksi, ke bagaimana skema pasar lintas batas dirancang, bagaimana proyek-proyek ini bisa didanai, hingga bagaimana keputusan dapat dibuat antar yurisdiksi yang berbeda. Kemampuan pemodelan multi-negara Scenario Builder ini memberikan para pemerhati dan komunitas energi ASEAN sebuah alat untuk membangun model-model tersebut dan menguji berbagai skenario sehingga keputusan investasi dapat dibuat dengan lebih percaya diri dan diskusi seputar desain pasar dapat benar-benar terinformasi dengan baik,” kata Matt Gray, CEO TransitionZero, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Scenario Builder dirancang untuk membantu para analis sistem kelistrikan, perencanaan, dan pembuat kebijakan dalam membangun, menjalankan, dan menganalisis model ekspansi kapasitas, serta dispatch jangka panjang secara cepat dan transparan. Pendekatan open access TransitionZero juga menghilangkan hambatan-hambatan tradisional dalam pemodelan energi, seperti dataset yang tertutup, alat yang bersifat proprietary, dan ketergantungan pada keahlian teknis khusus yang tidak selalu tersedia di dalam institusi. Platform ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pemodelan internal di dalam pemerintahan, lembaga perencanaan, dan berbagai institusi lain yang bekerja di garis terdepan pengambilan keputusan transisi energi.
Melalui Scenario Builder, para pengguna dapat mengevaluasi bagaimana interkoneksi regional dapat memperluas jalur energi bersih yang layak, di mana kendala transmisi paling kritis, bagaimana struktur perdagangan yang berbeda memengaruhi biaya di seluruh sistem, serta bagaimana rencana-rencana nasional dapat saling berinteraksi di tingkat regional. Sebagai contoh konkret, seorang perencana dapat menggunakan Scenario Builder untuk memodelkan bagaimana peningkatan kapasitas energi terbarukan di satu negara berdampak pada jaringan listrik di negara-negara tetangganya, mengidentifikasi di mana bottleneck transmisi akan muncul dalam berbagai struktur perdagangan, atau bagaimana interkoneksi regional mengubah bauran pembangkitan berbiaya terendah di seluruh ASEAN.
"Model APG memberi para perencana, peneliti, dan institusi cara yang praktis untuk memahami bagaimana sistem kelistrikan saling berinteraksi di Asia Tenggara. Dengan mengintegrasikan pembangkitan, transmisi, dispatch, dan aliran perdagangan ke satu lingkungan pemodelan yang terbuka, Scenario Builder membantu pengguna untuk membandingkan berbagai opsi, memahami trade-off yang ada, dan bekerja dari asumsi yang transparan. Yang kami nantikan sekarang adalah bagaimana para pengguna mengaplikasikan kemampuan fitur ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan perencanaan mereka sendiri, dan bagaimana open modelling dapat mendukung diskusi yang lebih praktis dan berbasis data di seluruh kawasan,” pungkas Ajita Mishra, Head of Market Development at TransitionZero.