Dalam forum TMT Finance APAC 2026, Lintasarta menghadirkan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) yang terintegrasi untuk membantu pelanggan mempercepat adopsi AI secara end-to-end. Hal tersebut disampaikan Director & Chief Financial Officer (CFO) Lintasarta, Hariyadi Ramelan.

Membawa tema Intelligence to accelerate smart investment in digital infrastructure, forum global yang diadakan di Singapura pada Mei ini mempertemukan lebih dari 350 investor, operator, dan pelaku industri digital infrastructure dari berbagai negara untuk membahas arah perkembangan infrastruktur digital masa depan. Hariyadi menyoroti pentingnya membangun fondasi AI yang berkelanjutan melalui kombinasi infrastruktur digital, kolaborasi ekosistem, serta pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan nyata pelanggan.

Baca Juga: Perdana Hadir di Palembang, Kompetisi DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 Dorong Kecerdasan Anak Hebat di Sumatera Selatan

“AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan salah satu penggerak utama transformasi bisnis dan ekonomi digital. Karena itu, pengembangan AI perlu didukung oleh infrastruktur yang kuat, ekosistem yang kolaboratif, serta pendekatan yang berkelanjutan agar mampu menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Hariyadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Hariyadi, kebutuhan pelanggan saat ini terus berkembang. Mereka tidak hanya membutuhkan kapasitas komputasi AI, tetapi juga konektivitas, cloud, keamanan siber, serta dukungan ekosistem yang mampu mempercepat implementasi AI dalam proses bisnis. “Karena itu, kami memperluas peran menjadi Beyond AI Factory. Kami ingin menghadirkan solusi AI yang lebih terintegrasi sehingga pelanggan dapat mengakses infrastruktur, platform, keamanan, dan kolaborasi yang dibutuhkan untuk mempercepat perjalanan transformasi AI mereka,” tambahnya.

Sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Group, Lintasarta menghadirkan pendekatan terintegrasi melalui empat pilar utama atau 4C, yaitu Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration (AI Application Solution). Melalui pendekatan ini, pelanggan dapat memperoleh solusi yang menggabungkan konektivitas, komputasi AI, keamanan siber, serta dukungan ekosistem dalam satu platform yang terintegrasi.

Pendekatan Beyond AI Factory tersebut diperkuat melalui layanan terintegrasi yang didukung oleh infrastruktur AI yang andal melalui sovereign AI infrastructure. Di saat yang sama, Lintasarta juga terus membangun ekosistem AI nasional melalui gerakan AI Merdeka, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi dengan mitra global guna mempercepat adopsi AI di Indonesia.

Sementara itu, Chief Content Officer TMT Finance Ben Nice dalam sambutannya mengatakan bahwa AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan investasi digital infrastructure di kawasan Asia Pasifik. “AI secara jelas mempercepat aktivitas investasi dan transaksi di kawasan Asia Pasifik. Saat ini kami memantau lebih dari 100 transaksi merger, akuisisi, dan pembiayaan di sektor digital infrastructure naik 8% setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan besarnya peluang pertumbuhan yang terbuka bagi pelaku industri di kawasan,” ujar Ben Nice.

Momentum tersebut semakin memperkuat keyakinan Lintasarta bahwa pengembangan ekosistem AI yang terintegrasi akan menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi AI dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.