Di negara ini lanjut Dahlan Iskan,banyak wanita memilih melepas karier gemilangnya ketika mereka menikah, ada yang mencoba mempertahankannya tetapi banyak juga yang memilih menyerah ketika masuk pada fase kehamilan. 

Kondisi ini adalah gunung es yang hanya menungu waktu untuk meletus, maka dari itu Dahlan Iskan menyarankan supaya pemerintah membuat regulasi yang jelas untuk melindungi talenta-talenta unggul tersebut lewat peraturan pepanjangan cuti hamil dan melahirkan. 

Baginya cuti melahirkan yang hanya berdurasi tiga bulan terlampau singkat, sehingga banyak wanita hebat memilih mengorbankan kariernya.  

“Karena itu saya pernah punya pikiran, bagi wanita-wanita hebat yang karirnya bagus, jangan hanya diberi cuti tiga bulan, tapi diberi cuti dua tahun,” ucapnya. 

Perempuan cerdas yang memilih melepaskan kariernya bakal memasuki suatu  fase yang bikin mereka bimbang sendiri, itu terjadi ketika anak-anaknya mulai tumbuh besar, karier yang dulu ditumbalkan rasanya mustahil dikejar lagi. 

“Karena banyak wanita hebat yang setelah kawin dan hamil, kemudian punya anak, dia pilih berhenti karena demi anak. Dan itu baik. Dua tahun kemudian, ketika anaknya sudah berumur dua tahun, ibu-ibu ini gelisah,” katanya lagi. 

“Aduh anakku sudah besar, ini mau sibuk apa? Sudah gelisah, sudah pengen bekerja lagi. Tetapi tempatnya bekerja sudah hilang, sudah diambil orang. Seandainya waktu itu dia cuti dua tahun, maka mereka ini bisa balik lagi ke tempat berkarirnya, sehingga tidak terjadi kehilangan orang-orang yang berprestasi,” pungkasnya.