Menurut Ria, tantangan tersebut semakin berat karena masih adanya stigma yang menempatkan urusan rumah tangga dan pengasuhan anak sebagai tanggung jawab utama perempuan.
Akibatnya, kata dia, ketika kondisi rumah tangga tidak berjalan sesuai harapan, perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Sebaliknya, saat perempuan harus menjadi pencari nafkah utama, kondisi tersebut justru dianggap sebagai sesuatu yang wajar tanpa melihat beban tambahan yang harus mereka pikul.
"Ketika perempuan diberi stigma bahwa mengasuh anak dan mengurus domestik adalah tanggung jawab perempuan, saat rumah tidak berjalan dengan lancar pasti pihak perempuan yang disalahkan. Tapi ketika misalnya dia harus menjadi breadwinner, sering kali dianggap sudah sepantasnya perempuan membantu suami ketika suami tidak bisa menjadi breadwinner,” papar Ria.
Ria menilai, sudah saatnya beban tersebut tidak lagi sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Menurutnya, pembagian peran dalam keluarga perlu dibangun secara lebih setara agar perempuan dapat berkembang sebagai pemimpin tanpa harus menghadapi tekanan ganda.
"Jadi saya rasa beban itu yang seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan,” pungkasnya.