Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat urban terhadap berbagai ritual perawatan diri sebelum tidur, mulai dari penggunaan skincare hingga rutinitas relaksasi malam, masih ada satu kebiasaan penting yang kerap terabaikan, yakni menyikat gigi sebelum tidur.
Ironisnya, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan hanya 27,8 persen masyarakat Indonesia yang rutin menyikat gigi pada malam hari sebelum tidur.
Artinya, sekitar 72,2 persen masyarakat berpotensi mengabaikan salah satu langkah paling sederhana dalam menjaga kesehatan mulut dan gigi.
Padahal, menurut Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), kebiasaan melewatkan sikat gigi di malam hari bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan dapat menjadi ancaman kesehatan yang serius.
Saat seseorang tidur, produksi air liur menurun drastis sehingga kemampuan alami rongga mulut untuk membersihkan diri ikut berkurang. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak lebih cepat.
Sisa makanan maupun minuman manis yang masih menempel pada permukaan gigi akan memicu terbentuknya plak, mempercepat pengikisan enamel, hingga meningkatkan risiko gigi berlubang. Jika dibiarkan, masalah tersebut pada akhirnya dapat berujung pada kebutuhan perawatan medis yang lebih kompleks dan mahal.
Kekhawatiran ini semakin relevan jika melihat data Global Oral Health Status Report 2022 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Laporan tersebut mencatat bahwa pengobatan dan perawatan kesehatan gigi menjadi salah satu beban biaya kesehatan terbesar di dunia dengan nilai mencapai USD 100,87 miliar, menempati posisi ketiga setelah penyakit diabetes dan kardiovaskular.
Dengan kata lain, kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele justru berpotensi memicu pengeluaran kesehatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Sebagai langkah preventif, perawatan gigi yang tepat dinilai mampu membantu mengurangi risiko tersebut. Salah satunya melalui penggunaan bahan aktif seperti Domiphen Bromide yang dikenal sebagai agen antiseptik untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri.
Kandungan ini dapat dikombinasikan dengan sodium carbonate yang membantu menjaga keseimbangan pH rongga mulut hingga sekitar delapan jam, setara dengan rata-rata durasi tidur orang dewasa.
Melihat kebutuhan tersebut, usmile Indonesia meluncurkan pasta gigi terbaru, Strength White, pada 22 Juni 2026. Produk ini dirancang sebagai solusi perawatan mulut menyeluruh yang tidak hanya membantu membersihkan gigi, tetapi juga menjaga warna gigi tetap cerah.
Melalui teknologi 3in1 Pro White, Strength White memadukan Baking Soda dan Calcium Carbonate yang diklaim mampu membantu mengangkat noda kuning akibat konsumsi kopi, teh, maupun rokok. Setelah noda terangkat, kandungan Tetrasodium Pyrophosphate bekerja melapisi permukaan enamel untuk membantu mencegah noda kembali menempel.
Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, Michelle, mengatakan bahwa peluncuran produk ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong budaya pencegahan dibanding pengobatan.
"Kehadiran produk terbaru ini merupakan wujud nyata dari brand value usmile, yakni Prevention over Treatment. Menurut kami nilai ini semakin disadari oleh konsumen, yang tercermin pada penjualan usmile tercatat konsisten bertumbuh. Setelah sukses mencatatkan lonjakan penjualan eksponensial hingga 182% pada bulan Ramadan 2026 lalu, performa penjualan usmile di bulan April kembali meningkat sebesar 20%, bahkan produk terbaru kami Optical White berhasil jadi top produk oral care di TikTok Shop pada minggu kedua di bulan Juni 2026," papar Michelle, dikutip dari keterangan resminya, Senin (22/6/2026)
Baca Juga: Dari Insecure Jadi Percaya Diri, Inovasi Pasta Gigi Ungu usmile Jadi Sorotan
Di sisi lain, pertumbuhan bisnis tersebut hadir di tengah tantangan ekonomi yang tidak ringan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18.200 per dolar AS serta tekanan di pasar modal menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang menghadapi ujian.
Kondisi ini juga sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah masyarakat kelas menengah menyusut dari 57 juta jiwa pada 2019 menjadi 47 juta jiwa pada 2024.
Menanggapi situasi tersebut, usmile tidak hanya fokus pada inovasi produk, tetapi juga membuka peluang kemitraan melalui program affiliate marketing.
“Langkah ini ditujukan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat usia produktif memperoleh sumber pendapatan tambahan di tengah ketidakpastian ekonomi,” terang Michelle.
Michelle melanjutkan, potensi sektor ini terbilang besar. Berdasarkan data Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), jumlah kreator afiliasi aktif di Indonesia telah melampaui tiga juta orang.

Dengan tren penjualan yang terus bertumbuh, kata dia, perusahaan melihat ekosistem afiliasi sebagai salah satu instrumen yang dapat membantu meningkatkan ketahanan finansial para kreator digital.
Michelle menilai bahwa perubahan kondisi ekonomi juga telah mengubah perilaku konsumen. Menurutnya, masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uang, tetapi tetap bersedia berinvestasi pada produk yang memberikan manfaat nyata bagi kualitas hidup mereka.
"Hal ini membuktikan pergeseran perilaku konsumen yang kini memandang senyum sehat sebagai aset estetika utama, mempertegas bahwa oral care is the new part of beauty & care," kata Michelle.
Di masa depan, keberhasilan industri barang konsumsi dipandang tidak lagi hanya ditentukan oleh tingginya volume penjualan. Lebih dari itu, perusahaan dituntut mampu menciptakan nilai bersama bagi masyarakat melalui inovasi yang relevan dan berdampak.
Melalui kombinasi antara edukasi kesehatan preventif dan pemberdayaan ekonomi digital, usmile berupaya menempatkan dirinya bukan hanya sebagai merek perawatan gigi, tetapi juga sebagai bagian dari solusi gaya hidup modern yang mendukung kesehatan sekaligus ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Era Baru Perawatan Gigi, usmile Hadirkan Odol Parfum Pertama di Dunia