Pada semester I tahun 2026, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) berhasil mencatatkan total volume penjualan sebanyak 18,28 juta ton, naik 5,6% yoy, utamanya didukung penguatan pasar domestik dengan volume penjualan mencapai 14,18 juta ton atau tumbuh 9,7% yoy. Sejalan dengan peningkatan volume penjualan, pendapatan SIG ikut terkerek naik sebesar 13,1% yoy menjadi Rp17,65 triliun.

Sementara itu, EBITDA juga naik 2,6% menjadi Rp2,15 triliun. Profitabilitas turut menguat, tercermin dari laba bersih yang meningkat 445,9% yoy menjadi Rp207 miliar, sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 471,0% yoy menjadi Rp228 miliar.

Baca Juga: Pendapatan Bersih United Tractors Turun 15% pada Semester I Tahun 2026

"Displin dan konsistensi menjalankan transformasi bisnis membuat SIG semakin resilience di tengah kondisi industri semen domestik yang menantang. Bahkan, transformasi tidak hanya membuat Perusahaan mampu mencapai pertumbuhan kinerja, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang," kata Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Melanjutkan inisiatif dekarbonisasi, SIG terus memperkuat komitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan, termasuk peningkatan penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif, optimalisasi klinker, serta efisiensi energi dan proses produksi. Komitmen ini diperkuat dengan target emisi berbasis sains yang telah disahkan SBTi dan penerapan rekomendasi TCFD dalam pengungkapan informasi kepada publik.

Saat ini, SIG memiliki sembilan merek semen yang kuat dan menjadi pemimpin pasar di berbagai wilayah di Indonesia dan regional, antara lain, Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix, Semen Kujang, Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Merdeka, serta Thang Long Cement. Untuk produk-produk yang dipasarkan di Indonesia, selain telah tersertifikasi SNI juga mengandung lebih dari 90% komponen dalam negeri (TKDN). Hal ini tak lepas dari komitmen penerapan prinsip keberlanjutan dalam proses bisnis dan produksi sehingga produk semen SIG dan turunannya memiliki emisi karbon hingga 38% lebih rendah dari semen konvensional.

Operasi SIG didukung pabrik semen terintegrasi di 10 lokasi, pabrik pengemasan di 26 lokasi, 6 pabrik penggilingan semen, dan 7 pelabuhan, juga diperkuat oleh lebih dari 300 distributor baik di Indonesia maupun di Vietnam (TLCC), serta lebih dari 63.000 toko ritel di Indonesia. Dengan jaringan operasi yang luas, SIG mengoptimalkan digitalisasi dan artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan rantai pasok, untuk menjaga kelancaran distribusi dan memastikan ketersediaan produk bahan bangunan di seluruh wilayah Indonesia dan regional secara lebih terukur dan efektif dalam skala masif. 

Indrieffouny Indra menambahkan, sejalan dengan permintaan semen nasional yang menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas konstruksi, infrastruktur, serta investasi industri dan hilirisasi, SIG optimis prospek penjualan pada semester II tahun 2026 tetap positif.

Sebagai upaya penguatan pasar, SIG kembali membangkitkan ”Semen Kujang” yang merupakan merek semen pertama di Jawa Barat. Semen Kujang juga menjalin kerja sama strategis sebagai Official Cement Partner klub PERSIB Bandung untuk menjangkau basis pasar retail Jawa Barat.

"Dengan ekosistem bisnis terintegrasi dan jaringan distribusi yang luas, SIG memiliki fondasi yang kuat untuk mendorong kinerja penjualan dan mencapai pertumbuhan bisnis yang profitable," tandas Indrieffouny Indra.