Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr Daryono dengan tegas membantah pernyataan sesumbar Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan yang mengatakan erupsi Gunung Anak Krakatau dan sejumlah gunung berapi di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan diduga merupakan hasil rekayasa pihak tertentu.
Daryono menegaskan pernyataan itu sama sekali tidak masuk akal, bencana alam seperti erupsi gunung berapi aktif jelas sukar direkayasa dan konsep ini tidak familiar bahkan tak dikenal dalam ilmu kebumian. Pernyataan mengenai dugaan rekayasa itu dinilai terlampau mengada-ada.
Baca Juga: Indonesia Dikepung Bencana Alam, Gempa, Karhutla dan Erupsi Gunung, Pak Prabowo Bilang Itu Takdir
“Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” kata Daryono dilansir Olenka.id dari keterangannya Kamis (10/9/2026).
Adapun dalam pernyataannya, Ulta Levenia Nababan sempat menyinggung proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) yang diduga kuat menjadi pemicu erupsi gunung berapi belakangan ini.
HAARP sendiri merupakan fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer. Namun, klaim yang mengaitkan HAARP dengan kemampuan memicu gempa bumi, mengendalikan cuaca maupun menyebabkan erupsi gunung api telah lama beredar sebagai bagian dari berbagai teori konspirasi.
Daryono mengatakan, sampai saat ini di era yang serba canggih ini belum ada ilmuwan yang mampu membuat ledakan yang bisa menembus kerak bumi, jadi pernyataan Ulta Levenia jelas ngawur dan tak punya landasan ilmiah.
Daryono menjelaskan, energi yang dibutuhkan untuk memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi yang berada pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan.
Erupsi terjadi ketika magma bergerak naik akibat gaya apung karena memiliki densitas lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Pergerakan tersebut juga disertai penumpukan tekanan gas, seperti uap air, karbon dioksida, hingga sulfur dioksida
Tekanan di kantong magma, kata Daryono, bahkan dapat mencapai ratusan MegaPascal. Ia menegaskan tidak ada teknologi yang sanggup menembus kerak bumi untuk mengubah tekanan secara sengaja.
“Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja,” tegasnya.
Daryono mengatakan, letak geografis Indonesia memang sangat rentan terhadap bencana alam lantaran berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire dan menjadi kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama dunia, termasuk Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik dan Filipina.
Proses penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lainnya membawa air dan sedimen ke kedalaman mantel. Proses tersebut memicu pelelehan batuan dan menghasilkan suplai magma secara terus-menerus selama jutaan tahun.
Karena itu, aktivitas sejumlah gunung api yang terjadi dalam periode berdekatan tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan adanya rekayasa manusia.
Menurut Daryono, ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi setelah gempa besar, beberapa gunung api yang sistem magmanya telah berada dalam kondisi kritis dapat mengalami aktivitas hampir bersamaan.
“Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu,” tegasnya.
Lebih lanjut, setiap aktivitas vulkanik memiliki sejumlah tanda atau sinyal prekursor geofisika yang dapat direkam sebelum erupsi terjadi.
Erupsi biasanya didahului peningkatan aktivitas seismik berupa gempa vulkanik dalam maupun dangkal, serta tremor yang muncul akibat rekahan batuan ketika magma bergerak menuju permukaan.
Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter
Selain itu, instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter juga dapat merekam deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api sebelum terjadi letusan.
Perubahan konsentrasi gas vulkanik hingga peningkatan suhu juga menjadi bagian dari proses yang diamati para ahli.
“Seluruh proses akumulasi massa dan energi ini membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan di dalam kerak bumi dan terekam secara transparan oleh instrumen geofisika global,” ujar Daryono.
Ia menambahkan, secara hukum fisika, lapisan batuan padat dengan ketebalan puluhan kilometer memiliki kemampuan meredam gelombang elektromagnetik
Dengan kondisi tersebut, sinyal buatan manusia disebut tidak memiliki mekanisme fisik untuk menggerakkan magma yang berada jauh di bawah permukaan bumi.
Selain persoalan mekanisme, Daryono menilai manusia juga tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma dengan suhu yang dapat mencapai sekitar 1.200 derajat Celsius.
“Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak,” pungkasnya.