Dalam proses tersebut, para seniman juga terbuka terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu mencetuskan konsep yang berkaitan dengan tema perdamaian.

“Dari ide gagasan Pak SBY, lalu itu kita buatkan atau kita ilustrasikan dengan media gambar yang kita diskusikan dari empat institusi dari Jakarta, Bandung, Solo dan Jogja, termasuk seniman independen. Banyak ide gagasan yang muncul. kemudian kita membuat sketsa. Kita terbuka atas teknologi AI yang membantu kita dalam mencetuskan konsep perdamaian”, ungkap Guntur Wibowo seperti dikutip, Senin (24/8/2026).

Baca Juga: RUANG// Luncurkan Jurnal Seni Kontemporer Asia Tenggara, Soroti Peran Seniman sebagai Peneliti

Pandangan serupa disampaikan kurator pameran, Gie Sanjaya. Menurutnya, perkembangan teknologi AI dapat dimanfaatkan dalam tahap awal seperti mind mapping untuk membantu seniman mengembangkan gagasan. Namun, proses selanjutnya tetap membutuhkan keterlibatan manusia, mulai dari goresan tinta, pencampuran warna, hingga pengolahan visual lainnya.

“Teknologi berkembang cepat di semua sektor, termasuk di dunia visual artistik. Terkait pemanfaatan AI di seni lukis, pada saat awal mind mapping dapat menggunakan AI. Selanjutnya ada goresan tinta, mix colour, dan lainnya yang tetap harus dikerjakan sendiri oleh seniman. Jadi, hasil AI masih harus diolah olah human/manusia,” tuturnya.

Dengan demikian, hasil yang dibantu teknologi AI tetap melalui proses pengolahan oleh seniman sehingga karya yang dihasilkan tetap merepresentasikan kreativitas dan rasa dari masing-masing seniman.