Bahan Baku dan Barang Modal Mendominasi Impor

Nilai impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$26,09 miliar, meningkat 0,72 persen dibandingkan Juni 2026 secara bulanan (MoM) dan tumbuh 27,02 persen dibandingkan Juli 2025 secara tahunan (YoY). Kenaikan tersebut berasal dari impor nonmigas yang tumbuh 4,57 persen (MoM) menjadi US$22,33 miliar, sementara impor migas turun 17,33 persen (MoM) menjadi US$3,77 miliar.

Pada Juli 2026, peningkatan impor nonmigas secara bulanan, antara lain, berasal dari serealia (HS 10) sebesar 78,38 persen; garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 64,53 persen; serta ampas dan sisa industri makanan (HS 23) sebesar 31,88 persen.

Baca Juga: Mendorong Produk UMKM Sawit Tembus Pasar Ekspor

Dari sisi negara asal, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi pada Juli 2026 berasal dari Uni Emirat Arab sebesar 213,23 persen, diikuti Federasi Rusia sebesar 37,61 persen dan Kanada sebesar 33,97 persen.

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$163,33 miliar atau meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Impor nonmigas mencapai US$137,56 miliar atau tumbuh 16,78 persen, sedangkan impor migas mencapai US$25,77 miliar atau meningkat 40,24 persen.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong masih menjadi komponen terbesar dengan pangsa 71,45 persen terhadap total impor Indonesia selama Januari–Juli 2026. Selanjutnya, barang modal memiliki pangsa 19,88 persen dan barang konsumsi 8,67 persen.

Dengan demikian, bahan baku dan penolong serta barang modal secara keseluruhan menyumbang 91,33 persen dari total impor Indonesia. Dari sisi pertumbuhan, impor bahan baku/penolong meningkat 20,42 persen, barang modal tumbuh 20,00 persen, dan barang konsumsi meningkat 16,03 persen dibandingkan periode Januari–Juli 2025 (CtC).

“Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya,” kata Mendag Busan.

Dari sisi komoditas, peningkatan impor nonmigas terbesar pada Januari–Juli 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang naik 594,46 persen; garam, belerang, batu dan semen (HS 25) naik 125,15 persen, serta bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 66,01 persen.

Dari sisi negara asal, Tiongkok tetap menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari–Juli 2026 dengan pangsa 42,38 persen. Dari sisi pertumbuhannya, impor nonmigas Indonesia dari Prancis meningkat 168,36 persen, Argentina 70,57 persen, dan Federasi Rusia 70,41 persen.

Mendag Busan menegaskan, pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor. Upaya ini dilakukan melalui penguatan daya saing produk, peningkatan nilai tambah, perluasan serta diversifikasi pasar ekspor, dan pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri.

“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor sehingga kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan,” tandasnya.