Yayasan SEJIWA memperingati Safer Internet Day (SID) 2026 melalui rangkaian kegiatan bertema ‘Bangun Resiliensi Digital, Wujudkan Ruang Aman dari Kekerasan Luring dan Daring’ yang digelar di Golden Ballroom 2, Sultan Hotel & Residence Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Kegiatan ini menjadi respons atas meningkatnya risiko kekerasan serta eksploitasi seksual terhadap anak, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, seiring pesatnya perkembangan teknologi dan semakin dini anak-anak mengakses internet.
Peringatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi internasional, organisasi masyarakat sipil, akademisi, platform digital, hingga anak dan orang muda sebagai pihak utama dalam upaya perlindungan digital.
Pendiri SEJIWA, Diena Haryana, menegaskan bahwa peringatan Safer Internet Day menjadi momentum penting untuk memperkuat perlindungan anak di era digital.
“Kita bersyukur bisa merayakan Safer Internet Day bersama. Momentum ini mengingatkan kita bahwa dunia digital membawa banyak tantangan baru, termasuk meningkatnya kasus eksploitasi seksual anak, baik secara luring maupun daring, yang menjadi perhatian besar kami di SEJIWA,” terang Diena dalam sambutannya.
Selama tiga tahun terakhir, kata Diena, SEJIWA menjalankan proyek SUFASEC (Stepping Up the Fight Against Sexual Exploitation of Children) sebagai bagian dari gerakan global di 12 negara yang tergabung dalam aliansi Down to Zero. SEJIWA sendiri telah menjadi anggota Child Rights Coalition Asia sejak 2008.
Melalui program tersebut, SEJIWA membangun kapasitas anak dan orang dewasa di wilayah yang rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi seksual anak, termasuk di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Bogor, serta sejumlah wilayah lain.
“Kami membangun kapasitas anak-anak SEJIWA Muda dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan untuk mencegah, menangani, dan mendampingi teman-teman mereka jika mengalami kekerasan. Mereka tidak bekerja sendiri, karena ada orang-orang dewasa di sekitar mereka yang juga kami latih untuk memberikan dukungan,” jelas Diena.
Anak-anak yang dilibatkan kini berperan sebagai peer educators di sekolah dan komunitas, membantu menyebarkan pemahaman mengenai keamanan digital serta perlindungan anak. Jika terjadi kasus yang lebih kompleks, jejaring orang dewasa dan tim SEJIWA memberikan pendampingan lanjutan.
Momentum SID 2026 juga menjadi ajang peluncuran Ruang Aman SEJIWA di sejumlah wilayah, antara lain Penjaringan, Muara Angke, dan Kampung Muara di Jakarta Utara, serta Bogor. Ruang ini menjadi pusat edukasi sekaligus dukungan awal bagi anak atau korban yang membutuhkan bantuan.
“Mereka memang bukan konselor atau tenaga medis, tetapi para aktivis komunitas yang telah kami latih untuk memberikan dukungan awal dan membantu korban menemukan pertolongan yang tepat,” kata Diena.
Selain itu, acara juga diisi berbagai kegiatan kreatif seperti pertunjukan seni, musik, puisi, drama, dan tarian yang menjadi wadah anak dan orang muda mengekspresikan aspirasi mereka terkait keselamatan digital.
Menurut Diena, perlindungan anak di era digital harus menjadi gerakan bersama.
“Kami membangun jejaring untuk menciptakan sistem keamanan bagi anak-anak. Kami berharap dukungan pemerintah, organisasi masyarakat, dan platform digital agar upaya membangun ketahanan digital ini terus berkembang. Kita percaya anak-anak Indonesia hebat dan mampu membangun masa depan bangsa,” tutupnya.
Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Soroti Pentingnya Etika Digital Sejak Dini di Era Kecerdasan Buatan
Perlindungan Anak Harus Jadi Gerakan Bersama
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menegaskan perlindungan anak di era digital kini menjadi isu mendesak yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Saya berdiri di sini sebagai orang tua yang memiliki harapan agar anak-anak Indonesia bisa tumbuh secara optimal dalam ruang yang aman, baik fisik maupun digital, sehingga mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berkelas,” ungkap Woro.
Ia mengapresiasi peran SEJIWA yang dinilai berhasil melibatkan anak muda sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman.
“Kami berterima kasih kepada SEJIWA yang telah memberdayakan anak-anak muda untuk menjadi penggerak, tidak hanya bagi teman sebaya, tetapi juga lingkungan yang lebih luas dalam melindungi anak-anak Indonesia,” katanya.
Woro mengingatkan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar selebrasi program, melainkan peringatan atas situasi krusial terkait eksploitasi anak di ruang digital.
“Kita hadir di sini bukan sekadar selebrasi, tetapi karena ada situasi yang sangat krusial. Data menunjukkan laporan kasus eksploitasi anak dari Indonesia sangat tinggi, bahkan menempatkan kita di peringkat ketiga dunia dalam eksploitasi seksual anak secara daring,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penggunaan gawai oleh anak usia dini memperbesar risiko jika tidak diimbangi perlindungan yang memadai.
“Anak-anak usia sangat muda sudah menggunakan gadget, sementara ruang digital belum sepenuhnya aman bagi mereka. Karena itu kita tidak bisa lagi menunggu. Kita harus bergerak sekarang,” tegasnya.
Menurut Woro, generasi muda tidak hanya perlu dilindungi, tetapi juga menjadi bagian penting solusi. Ia pun mendorong anak muda memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kampanye positif.
“Gunakan media sosial bukan sekadar untuk viral, tetapi untuk mengkampanyekan internet yang aman dan saling menjaga,” katanya.
Kolaborasi lintas generasi dan sektor pun dinilai Woro menjadi kunci keberhasilan perlindungan anak. Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata.
“Jangan sampai anak-anak kita hanya hidup di depan layar. Dunia digital harus seimbang dengan aktivitas nyata dan kebersamaan keluarga,” ujarnya.
Woro pun menekankan, peluncuran Ruang Aman SEJIWA pun dinilainya menjadi contoh nyata keterlibatan komunitas dalam perlindungan anak.
“Ruang aman digital harus mampu menghadirkan anak yang berdaya, orang dewasa yang paham, komunitas yang peduli, dan sistem yang bekerja. Ini adalah kerja bersama kita semua,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Woro mengajak seluruh pihak terus bergerak bersama menciptakan ruang digital yang aman.
“Pemerintah siap berjalan bersama kalian, bukan di depan, bukan di belakang, tetapi di samping kalian. Mari kita jadikan Indonesia bukan hanya negara yang cepat secara digital, tetapi juga negara yang paling aman dan peduli bagi anak-anak,” pungkas Woro.
Melalui peringatan Safer Internet Day 2026, SEJIWA berharap kesadaran publik terhadap keamanan digital semakin kuat, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang di ruang yang aman, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Baca Juga: Tentang Yayasan Inspirasy Indonesia dan Asa Anak-anak Berkebutuhan Khusus