Dalam situasi tersebut, satwa dapat berpindah ke kawasan lain untuk mencari tempat bertahan hidup. Hutan sekunder maupun wilayah yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman menjadi alternatif habitat sementara. Namun, perpindahan ini justru berpotensi memperbesar interaksi negatif antara satwa liar dan manusia.

Menurut Dr. Mustari, satwa yang keluar dari habitat aslinya kerap dianggap sebagai ancaman, padahal perpindahan tersebut dapat terjadi karena lingkungan tempat mereka hidup telah rusak.

Kondisi ini membuat satwa liar berisiko menjadi korban, baik akibat konflik langsung maupun tindakan manusia.

“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” jelasnya.

Selain menimbulkan kerusakan secara langsung, karhutla juga meninggalkan persoalan jangka panjang berupa pemulihan ekosistem.

Dr. Mustari menegaskan, keberhasilan pemulihan hutan tidak cukup dinilai dari tumbuhnya kembali pepohonan atau vegetasi setelah kebakaran. Ekosistem yang sehat juga bergantung pada pulihnya hubungan antarmakhluk hidup, termasuk jaring dan rantai makanan yang menopang keseimbangan lingkungan.

Proses tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Ekosistem yang pulih pun belum tentu mampu kembali sepenuhnya ke kondisi semula. Karena itu, mencegah kebakaran dinilai jauh lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan pemulihan setelah kerusakan terjadi.

Lebih jauh, Dr. Mustari menekankan perlunya penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pihak yang bertanggung jawab atas karhutla.

Langkah tersebut perlu diiringi dengan penguatan sistem pencegahan, perlindungan habitat penting, serta perluasan kawasan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa.

“Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.

Ia juga menilai, edukasi dan penyadartahuan publik perlu terus ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh satwa liar.

“Kebakaran hutan dan lahan turut memengaruhi kehidupan manusia, antara lain melalui penurunan kualitas udara serta gangguan terhadap ketersediaan pangan dan air,” pungkasnya.

Baca Juga: Mengapa Api di Lahan Gambut Bisa Menyala Kembali Meski Sudah Padam?