Growthmates, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di Kalimantan dan Sumatra bukan hanya menyebabkan kerusakan hutan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup berbagai satwa liar, termasuk spesies endemik dan langka.
Hilangnya habitat, sumber makanan, hingga akses terhadap air bersih membuat satwa menghadapi risiko kematian, sementara mereka yang berhasil menyelamatkan diri berpotensi masuk ke wilayah permukiman dan memicu konflik dengan manusia.
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr. Abdul Haris Mustari, menilai, karhutla di kedua pulau tersebut tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan oleh perusahaan maupun perorangan.
Dikatakannya, kebakaran yang terus berulang setiap tahun menunjukkan bahwa upaya pencegahan masih perlu diperkuat.
“Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar,” kata Dr. Mustari, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Selasa (13/10/2026).
Dr. Mustari mengatakan, kebakaran dapat terjadi di berbagai kawasan, mulai dari areal perkebunan dan hutan sekunder hingga hutan primer yang menjadi habitat penting bagi satwa liar.
Kerusakan di kawasan tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem sekaligus mengancam keberadaan berbagai spesies yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup.
Sejumlah satwa yang berpotensi terdampak antara lain orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir. Kehilangan habitat dalam skala besar dapat mengancam keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis hutan berisiko rusak dalam waktu singkat.
“Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,” ucap Dr. Mustari.
Dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Ancaman paling langsung adalah kematian akibat terbakar.
Sementara itu, satwa yang mampu melarikan diri harus menghadapi kondisi lingkungan yang berubah drastis, mulai dari hilangnya tempat berlindung hingga berkurangnya sumber makanan dan air.
Baca Juga: Ikut Terpapar Asap, Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla