6. Asymmetry karya Lisa Halliday

Dua cerita yang tampak tidak berhubungan perlahan saling terhubung, membahas relasi kuasa, ambisi, dan identitas di awal karier.

Halliday mengeksplorasi perasaan saat Anda menyadari bahwa hidup Anda dibentuk oleh visi orang lain, dan mempertanyakan ke mana arah Anda sendiri.

7. Uncanny Valley karya Anna Wiener

Memoar tentang perpindahan dari dunia penerbitan ke industri teknologi. Wiener menulis dengan jernih tentang ilusi makna di balik gemerlap startup.

Buku ini sangat relevan bagi mereka yang merasa 'terjebak nyaman' menyadari pekerjaan tidak bermakna, tetapi tetap bertahan karena hidup sudah terlanjur disusun di sekitarnya.

8. Pond karya Claire-Louise Bennett

Sebuah narasi kontemplatif tentang seorang perempuan yang hidup tanpa identitas profesional yang jelas.

Ia memikirkan hal-hal kecil mulai dari dapur hingga cuaca, namun justru di situlah letak kekuatannya.

Buku ini cocok bagi yang mulai mempertanyakan 'apakah pekerjaan benar-benar pusat dari identitas kita'?

9. My Year of Meats karya Ruth Ozeki

Seorang pembuat film terjebak dalam proyek yang bertentangan dengan nilai pribadinya.

Ozeki mengangkat dilema yang sangat nyata, bekerja demi kebutuhan finansial, namun perlahan kehilangan diri sendiri.

Kisah di buku ini tajam, satir, dan relevan bagi banyak profesional modern.

10. The Volunteer karya Salvatore Scibona

Melintasi beberapa dekade dan karakter, novel ini menggali bagaimana identitas dibentuk oleh peran dan apa yang terjadi ketika peran itu hilang.

Ini adalah refleksi mendalam tentang ketakutan menjadi 'bukan siapa-siapa' di luar pekerjaan.

Nah Growthmates, buku-buku ini tidak menawarkan solusi instan. Mereka tidak akan memberi tahu apakah Anda harus bertahan, resign, atau memulai ulang dari nol. Namun, mereka memberikan sesuatu yang lebih penting, yakni rasa ditemani.

Baca Juga: 10 Buku Critical Thinking yang Akan Mengubah Cara Anda Memahami AI