Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akhirnya melanjutkan proyek normalisasi Sungai Ciliwung sebagai salah satu upaya mengatasi banjir Jakarta yang rutin datang pada musim penghujan. 

Proyek normalisasi itu mulai dikebut pada Kamis (29/1/2026) setelah mangkrak sejak 2017 di era Gubernur Anies Baswedan. 

“Ini adalah bagian untuk mengatasi banjir jangka menengah yang ada di Jakarta. Normalisasi Sungai Ciliwung ini sempat terhenti dari tahun 2017 dan kita lanjutkan kembali,” ucap Pramono saat meninjau pembebasan lahan normalisasi Ciliwung di wilayah Cawang, Jakarta Timur dilansir Jumat (30/1/2026). 

Baca Juga: Penyakit Kencing Tikus Intai Warga Jakarta Terdampak Banjir, Pramono Gratiskan Puskesmas dan RSUD

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membagi proyek normalisasi ini menjadi beberapa segmen.  

Segmen pertama dimulai dari  Pintu Air Manggarai hingga MT Haryono. Total panjang segmen pertama adalah 7 kilometer, dengan rencana tanggul 14,99 kilometer.

Selanjutnya adalah segmen  MT Haryono - TB yang terbentang sepanjang 12,89 kilometer, dengan rencana tanggul 18,7 kilometer. 

“Saat ini, total tanggul yang sudah dibangun mencapai 17,14 kilometer dari 33,69 kilometer,” beber Pramono. 

Pembebasan Lahan 

Program normalisasi ini memang berdampak langsung pada warga yang tinggal di sepanjang bantaran Ciliwung. Pemprov DKI telah melakukan pembebasan lahan sendiri tanpa perantara pihak ke tiga. Bahkan pembebasan lahan itu dilakukan diam-diam tanpa gembar-gembor ke media. 

Baca Juga: Pramono Optimis Bank Jakarta Melantai di Bursa Efek pada 2027

Rumah warga yang terdampak proyek normalisasi  mendapat kompensasi lewat ganti untung. Warga juga difasilitasi rumah susun yang telah disediakan Pemprov DKI tentu saja dengan persyaratan tertentu.

Setiap lahan di pinggiran Ciliwung diberi tanda warna sesuai tahapannya,  Lahan dengan warna merah menandakan pembayaran ganti rugi sudah dilakukan. 

Sementara itu, lahan yang akan dibayarkan pada minggu berikutnya diberi warna pink. Kemudian, lahan yang diberi warna kuning masih dalam tahap proses pemberkasan.

“Saya menginginkan normalisasi Ciliwung ini berjalan dengan tidak ribut-ribut. Dan teman-teman pasti enggak menyangka bahwa kami sudah melakukan pembebasan yang cukup masif di tempat ini. Dan itu memang dilakukan secara adem ayem, senyap lah,” kata Pramono. 

Sementara itu Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin mengatakan, normalisasi Ciliwung sangat penting dilakukan, apabila normalisasi dilaksanakan hingga tuntas, maka potensi banjir Jakarta dapat ditekan hingga 40 persen. 

“Kalau kita bisa mengendalikan Ciliwung, maka kita bisa menyelesaikan persoalan DAS Ciliwung sebesar 40 persen di DAS Ciliwung,” ungkap Ika.