Growthmates, pekerjaan rumah tangga kerap dianggap sebagai aktivitas rutin yang hanya membutuhkan tenaga fisik.
Padahal, di balik kegiatan sehari-hari seperti mencuci piring, membersihkan rumah, merapikan kamar, hingga memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, terdapat beban mental yang sering kali tidak terlihat namun terus menguras energi seseorang.
Psikolog, Adriana Amalia, M.Psi., menjelaskan bahwa pekerjaan rumah tangga bukan sekadar aktivitas fisik. Di dalamnya terdapat proses mental yang dikenal sebagai mental labor atau cognitive household labor, yaitu aktivitas mengingat, merencanakan, mengantisipasi, mengoordinasikan, dan memantau berbagai kebutuhan rumah tangga secara berkelanjutan.
Menurut Adriana, banyak orang hanya melihat hasil akhir dari pekerjaan rumah tangga tanpa menyadari proses berpikir yang terjadi di baliknya.
“Banyak orang menilai pekerjaan rumah tangga dari hasil akhirnya, apakah rumah bersih atau pekerjaan selesai. Padahal ada serangkaian proses berpikir yang terjadi di baliknya, mulai dari mengingat kebutuhan rumah, mengatur jadwal, hingga memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Aktivitas mental ini dapat berlangsung tanpa henti dan pada akhirnya memicu kelelahan emosional,” jelas Adriana, dikutip dari keterangan resminya, Selasa (23/6/2026).
Adriana menuturkan, beban mental tersebut semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat modern yang dituntut menjalankan berbagai peran dalam waktu bersamaan.
Menurutnya, seseorang bisa menjadi karyawan, pasangan, orang tua, pengelola rumah tangga, sekaligus caregiver bagi anggota keluarga lainnya.
“Ketika berbagai tanggung jawab itu menumpuk, risiko mengalami role overload atau kelebihan beban peran menjadi semakin besar,” ujar Adriana.
Adriana melanjutkan, kondisi ini dapat berdampak pada meningkatnya tingkat stres, kelelahan emosional, burnout, hingga menurunnya kualitas hidup dan kepuasan dalam hubungan personal.
Baca Juga: Anak Butuh Ayah yang Hadir, Psikolog Beberkan Manfaatnya untuk Masa Depan
Adriana menilai bahwa kelompok yang paling rentan mengalami beban mental rumah tangga adalah ibu bekerja, orang tua yang memiliki anak kecil, caregiver keluarga, serta individu yang memiliki kecenderungan perfeksionis dan merasa harus mengendalikan seluruh urusan rumah tangga sendiri.
Dalam situasi tersebut, keberadaan sistem pendukung atau support system menjadi faktor yang sangat penting. Tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan fisik, dukungan yang tepat juga dapat meringankan beban mental yang selama ini sering luput dari perhatian.
“Dalam kondisi seperti ini, support system menjadi sangat penting. Bantuan yang diterima bukan hanya mengurangi pekerjaan fisik, tetapi juga mengurangi beban pengambilan keputusan, pengawasan, dan antisipasi terhadap berbagai kebutuhan rumah tangga yang sering kali menguras energi psikologis,” tambah Adriana.
Dan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan kesehatan mental, berbagai bentuk dukungan rumah tangga modern mulai berkembang.

Kehadiran layanan seperti bTaskee Indonesia yang dapat membantu mengelola kebutuhan rumah tangga dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan sehari-hari dan memberikan ruang bagi individu untuk fokus pada aspek kehidupan lainnya.
Marketing Manager bTaskee Indonesia, Diana Liudin, mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan rumah tangga terus meningkat sejalan dengan tingginya mobilitas dan banyaknya tanggung jawab yang harus dijalankan.
“Kami melihat banyak pelanggan harus membagi waktu mereka untuk berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi tersebut, kehadiran layanan yang mudah diakses dan dapat diandalkan menjadi salah satu bentuk dukungan yang membantu mereka mengelola kesehariannya dengan lebih praktis dan efisien,” beber Diana.
Menurutnya, setiap rumah tangga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sehingga layanan yang fleksibel dan dapat disesuaikan menjadi semakin penting.
“Dukungan tersebut tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu, tetapi juga memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengatur waktu dan energi secara lebih efektif,” tandasnya.
Baca Juga: Psikolog: Playground dan Belanja Bisa Jadi ‘Emotional Gym’ bagi Anak