Harga ternak yang kerap anjlok menjelang Idul Adha sempat menjadi persoalan bagi para peternak di Desa Tolokan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Kondisi tersebut membuat banyak peternak kesulitan memperoleh keuntungan meski telah memelihara domba berukuran besar selama berbulan-bulan.
Melalui Program Janantara atau Jaringan Ternak Nusantara yang digagas Dompet Dhuafa, para peternak mulai merasakan adanya kepastian harga jual sekaligus pendampingan dalam pemeliharaan ternak qurban.
Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Heri Santoso. Ia mengatakan, sebelum bergabung dalam program kemitraan, peternak kerap mengalami kerugian akibat turunnya harga ternak menjelang hari raya qurban.
Baca Juga: Taman Edukasi Mangrove DMC Dompet Dhuafa Hadirkan Edukasi Lingkungan Sekaligus Mitigasi Bencana
“Kalau dulu sebelum adanya program dari Dompet Dhuafa itu, harga kambing selalu turun saat hari raya qurban. Saya pribadi pernah punya domba besar tapi harganya murah,” ujar Heri.
Menurut Heri, program tersebut tidak hanya membantu dari sisi pemasaran, tetapi juga memberikan pendampingan terkait perawatan dan kesehatan ternak.
Ia mengaku sempat kewalahan ketika pertama kali dipercaya memelihara puluhan domba karena sebelumnya hanya terbiasa memelihara ternak dalam jumlah kecil.
Baca Juga: Melibatkan Ratusan Guru, DMC Dompet Dhuafa Gelar Bimtek Sekolah Aman Bencana di Aceh
“Kita hanya pemelihara domba biasa, terus diberi amanah dari Dompet Dhuafa dengan begitu banyak dan kita kewalahan juga. Tapi Alhamdulillah dibekali juga cara mengobati, cara merawat sampai saat ini,” katanya.
Di Desa Tolokan, sistem pemeliharaan dilakukan secara mandiri agar perkembangan ternak lebih mudah dipantau. Menurut Heri, metode tersebut memudahkan peternak mengetahui kondisi setiap domba secara lebih detail.
“Kalau dibikin mandiri itu kita bisa mengejar kalau ada domba yang tertinggal bobotnya. Tapi kalau dalam satu kelompok biasanya susah karena pemegangnya beda-beda,” jelasnya.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Berangkatkan 750 Pemudik Lewat Program Mudik Kalcer 2026
Ia menambahkan, perbedaan pola pemberian pakan antarpeternak sering membuat pertumbuhan ternak tidak merata apabila dipelihara secara kelompok.
“Dalam segi ngasih porsi makan kadang ada yang berlebih, ada yang kurang,” ujarnya.
Saat ini, domba-domba yang dipelihara di kandangnya dipersiapkan khusus untuk kebutuhan qurban. Program penggemukan biasanya dilakukan selama sekitar empat bulan sebelum masa distribusi.
“Kalau pemeliharaan penggemukan di sini hanya ditarget sekitar empat bulan,” kata Heri.
Menurutnya, hampir seluruh domba yang berada di kandang saat ini telah siap didistribusikan sebagai hewan qurban. Untuk wilayah kecamatan saja, jumlahnya mencapai sekitar 50 ekor.
Selain membantu proses budidaya, program kemitraan tersebut juga memberikan kepastian harga jual bagi peternak. Sistem penjualan dilakukan berdasarkan bobot kilogram, berbeda dengan pasar tradisional yang masih menggunakan sistem gelondongan.
“Kalau untuk Dompet Dhuafa itu sekitar Rp70 ribu per kilo. Kalau di pasaran itu sistem gelondong, jadi kadang bobot 50 kilo cuma dihargai Rp1,2 juta sampai Rp1,5 juta. Jadi lebih untung sama Dompet Dhuafa,” ungkapnya.
Pakan dan bibit ternak juga disediakan melalui sistem kemitraan. Nantinya, biaya tersebut dipotong setelah hewan terjual sehingga peternak tidak terlalu terbebani modal di awal.
Heri berharap Program Janantara dapat terus berkembang dan membantu lebih banyak peternak di daerahnya.
“Harapan saya dan teman-teman Program Janantara bisa bermanfaat untuk semua orang,” katanya.
Ia juga berharap semakin banyak peternak kecil bergabung dalam program serupa agar perekonomian masyarakat desa ikut meningkat.
“Harapan kita untuk peternak yang lain bisa ikut gabung bersama Dompet Dhuafa agar perekonomian masyarakat juga bisa naik,” tutup Heri.