Program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization) sering kali dipandang hanya sebagai proses medis. Padahal, di balik setiap tahapannya, ada perjalanan emosional panjang yang harus dilalui pasangan pejuang dua garis biru.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas di Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., mengungkapkan bahwa proses IVF bukan sekadar soal teknologi reproduksi, tetapi juga kesiapan mental dan kekuatan emosional pasangan.
Menurut dr. Darma, salah satu fase paling menegangkan dalam IVF terjadi pada lima hari pertama perkembangan embrio di laboratorium. Meski terlihat singkat, masa tersebut menjadi penentu kualitas embrio yang nantinya akan ditanamkan.
“Perjalanan lima hari itu kelihatannya sederhana, padahal setiap hari ada fluktuasi perkembangan embrio. Itu benar-benar membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapi hasil dari pertemuan sel telur dan sperma,” ungkap dr. Darma, saat konferensi pers di Ruang Audit, lantai 1 Primaya Evasari Hospital, Jakarta, Senin (18/5/2026).
dr. Darma mengatakan, perkembangan embrio dipantau setiap hari oleh tim medis. Bahkan, bagi dokter dan tenaga medis sendiri, menunggu laporan perkembangan embrio menjadi momen penuh harap dan kecemasan.
Dalam pengalamannya menangani pasien IVF, dr. Darma menilai sikap positif pasangan memiliki pengaruh besar terhadap keseluruhan proses program kehamilan.

Menurutnya, kesiapan psikologis membantu pasangan lebih tenang dalam menjalani setiap tahap, termasuk ketika harus menghadapi kemungkinan hasil yang tidak sesuai harapan.
“Sikap positif pasien itu sangat memengaruhi hasil akhirnya. Kesiapan psikis dalam menghadapi hasil program ini bisa sangat menentukan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Darma menegaskan, tidak ada klinik fertilitas di dunia yang bisa menjamin keberhasilan IVF hingga 100 persen. Tingkat keberhasilan rata-rata program IVF berada di kisaran 20 hingga 40 persen, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, pasangan perlu memahami bahwa proses IVF memiliki banyak kemungkinan, termasuk risiko kegagalan embrio berkembang.
Ia pun tak menampik bahwa banyak pasangan datang dengan trauma akibat perjalanan panjang memperoleh keturunan. Menurutnya, tidak sedikit yang telah mencoba berbagai metode selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memilih IVF.
Namun, keterbukaan pasangan terhadap arahan dokter menjadi faktor penting yang membantu proses berjalan lebih baik.
“Dalam prosesnya mereka bisa membuka hati dan pikiran. Saat diberikan arahan, mereka terbuka dan bersedia mengikuti dengan baik,” kata dr. Darma.
Kemudian, terkait masih banyaknya masyarakat yang menganggap IVF sebagai ‘jalan terakhir’ untuk mendapatkan keturunan, dr. Darma menegasjan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menilai, keputusan menjalani IVF sangat bergantung pada kondisi medis masing-masing pasangan.
“IVF itu tidak selalu menjadi jalan terakhir. Kalau sudah dianggap jalan terakhir, biasanya pasien sudah terlalu lama menjalani proses dan mencoba berbagai cara sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa kondisi yang memang membuat IVF menjadi pilihan utama sejak awal, misalnya pada kasus azoospermia atau kondisi ketika pria tidak memiliki sperma dalam cairan ejakulasi.
Selain itu, IVF juga menjadi solusi utama bagi perempuan dengan gangguan tuba falopi, terutama jika kedua saluran tuba telah rusak atau dipotong.
“Kalau kedua tuba sudah dipotong, tentu pembuahan alami tidak bisa terjadi lagi. Maka IVF menjadi pilihan yang paling memungkinkan,” jelas dr. Darma.
dr. Darma juga mengatakan, alasan terbesar pasangan menunda IVF sebenarnya bukan karena prosedurnya, melainkan faktor biaya.
Padahal, dalam beberapa kasus tertentu, pasien sebenarnya bisa langsung menjalani IVF tanpa harus melalui inseminasi terlebih dahulu.
Ia mencontohkan, pasien dengan PCOS atau kondisi tertentu yang tetap memiliki peluang baik menjalani IVF di usia muda.
“Tidak semua harus melalui inseminasi dulu. Kalau memang ingin langsung IVF, boleh saja. Tetapi pertimbangannya biasanya biaya,” ungkapnya.
Meski demikian, dr. Darma menekankan bahwa setiap pasangan memiliki kondisi berbeda sehingga keputusan terapi harus disesuaikan dengan penyebab infertilitas, usia, serta kesiapan fisik dan mental masing-masing.
“Jadi, keberhasilan IVF itu bukan hanya tentang teknologi medis, tetapi juga tentang kekuatan pasangan dalam menjaga harapan, saling mendukung, dan siap menghadapi setiap kemungkinan selama perjalanan menuju kehamilan,” pungkas dr. Darma.
Baca Juga: Smart Fertility Clinic Hadir Jadi Pendamping ‘Pejuang Garis Dua’ di Indonesia