Peneliti Pusat Studi Sawit IPB sekaligus dosen IPB University, Siti Nikmatin mengakui produk olahan limbah Kelapa Sawit masih kesulitan bersaing di level lebih tinggi, produk-produknya masih sukar menembus industri.
Produk helm Green Composite atau produk fashion yang berasal dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekarang ini masih sangat kesulitan masuk industri barang-barang itu sejauh ini masih diproduksi di level laboratorium kecil. Nikmatin mengatakan ada sederet hambatan yang merintangi produk berbasis limbah sawit ini menembus industri
Baca Juga: Limbah Kelapa Sawit Berpotensi Diolah dalam Skala Industri
“Sebagai contoh, saya pakai helm Green Composite. Saat ini sebetulnya setiap kali sepeda motor itu dibeli oleh konsumen, lokomotifnya kan dia harus punya helm. Tapi ya faktanya tidak banyak orang yang menggunakan helm itu. Nah itu memang tingkat kesulitannya di situ. Maksudnya industri masih belum bisa menerima inovasi dari perkembangan tinggi ini dikarenakan mereka harus setting, memformat ulang kondisi produksi pabrik itu,” kata Nikamtain kepada Olenka.id ditulis Kamis (9/4/2026).
Tantangan berikutnya yang membuat produk limbah sawit seperti jalan di tempat adalah masalah investasi. Dia mengatakan, untuk membawa produk limbah sawit naik kelas ke tingkat industri dan diproduksi dalam skala besar jelas butuh investasi yang tak sedikit, hal ini yang membuat investor kembali berpikir dua kali.
“Kalau mereka nge-scale up metodologi kita, mereka harus investasi yang bisa menyesuaikan pabrikasi itu. Nah itu perkembangan mereka jika memang bisa berjalan seperti sekarang saja, kenapa harus investasi lagi,” ucapnya.
Tantangan lain yang membuat produksi limbah sawit sukar masuk industri dan menembus pasar yang jauh lebih luas adalah soal pengeluar ekstra dalam mengurus limbah sawit.
Memproduksi limbah sawit menjadi barang-barang bernilai ekonomis kata Nikmatin membutuhkan pengeluaran yang jauh lebih besar daripada memproduksi barang lain, hal ini yang membuat banyak pengusaha memilih untuk tidak melirik limbah sawit.
“Tidak bisa dipungkiri bahwa mengolah limbah itu harus ada satu tahap tersendiri untuk menjadikan dia menjadi produk yang terintegrasi. Nah satu tahap itu yang memang membutuhkan cost. Dengan menambah satu step itu pasti harga juga akan lebih mahal sedikit,” ucapnya.
Supaya produksi limbah sawit bisa menembus pasar, Nikmatin mendorong pemerintah membuat regulasi yang bisa menjadi landasan bagi para pengusaha, misalnya saja regulasi mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang presentasenya mesti dinaikkan.
Baca Juga: Kisah Peneliti IPB Mengubah Limbah Sawit Jadi Peluang Usaha
“Misalnya industri itu diwajibkan dengan memproduksi produk yang TKDN-nya mungkin 90 persen atau 100 persen dari Indonesia,” tandasnya.