Meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia mendorong perubahan pendekatan dalam industri kecantikan. Perawatan kini tidak lagi semata berfokus pada tampilan fisik, melainkan mulai menempatkan kesehatan metabolik, gaya hidup, dan kondisi tubuh secara menyeluruh sebagai fondasi kecantikan jangka panjang atau beauty longevity.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas telah mencapai 23,4 persen. Obesitas dikategorikan sebagai penyakit metabolik kronik dengan penyebab yang kompleks dan multifaktorial, di mana ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi memegang peran penting. Ketika metabolisme terganggu, tubuh harus bekerja lebih keras, energi harian menurun, dan proses penuaan berpotensi berlangsung lebih cepat, termasuk pada kulit.

Di sisi lain, gaya hidup modern yang serba cepat turut memperparah kondisi tersebut. Pola makan tidak teratur, tingkat stres yang tinggi, serta kurang tidur kerap membuat tubuh kehilangan keseimbangan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada berat badan, tetapi juga pada daya tahan tubuh, kualitas energi, hingga kesehatan kulit.

Baca Juga: Awali 2026, ZAP Perluas Inovasi Skincare hingga Program Weight Loss Berbasis Medis

Seiring perubahan tantangan tersebut, konsep kecantikan global pun bergeser. Beauty tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya terlihat lebih muda, melainkan tentang bagaimana tubuh dan kulit dapat bertahan lebih sehat dan optimal dalam jangka panjang. Pendekatan inilah yang dikenal sebagai beauty longevity, yakni cara pandang yang memandang kulit, metabolisme, dan gaya hidup sebagai satu kesatuan sistem.

Dalam kerangka tersebut, ZAP menilai pengelolaan berat badan bukan semata tujuan estetika, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup, keseimbangan metabolisme, serta kesehatan kulit secara berkelanjutan.

Pendekatan ini diwujudkan melalui Z-Weight Loss Program, sebuah program penurunan berat badan berbasis medis yang mengintegrasikan terapi, pendampingan dokter, serta penyesuaian gaya hidup.

Terapi GLP-1 dan Pendekatan Medis yang Terukur

Di tengah maraknya perbincangan mengenai suntikan diet dan terapi GLP-1, ZAP menekankan pentingnya pemahaman yang proporsional terhadap pendekatan medis tersebut. Sebelum populer di media sosial dan dikaitkan dengan gaya hidup selebritas global, terapi GLP-1 telah lama digunakan dalam dunia medis.

GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) merupakan hormon alami yang berperan dalam mengatur rasa lapar, rasa kenyang, dan metabolisme tubuh. Hormon ini bekerja pada sistem pencernaan sekaligus di otak. Dalam praktik medis, Semaglutide dikenal sebagai analog GLP-1 dengan durasi kerja lebih panjang, sehingga membantu mengontrol nafsu makan dan regulasi energi secara lebih stabil.

Baca Juga: Cerita 6 Sosok Inspiratif ZAP tentang Kepercayaan Diri

Dokter spesialis gizi klinik di ZAP, dr. Cipuk Muhaswitri, SpGK, menjelaskan bahwa terapi berbasis GLP-1 tidak dapat dipisahkan dari pendampingan medis yang menyeluruh.

“GLP-1 membantu tubuh mengatur kembali sinyal lapar dan kenyang secara fisiologis. Dengan pendampingan medis yang tepat, tubuh menjadi lebih tenang sehingga perubahan pola makan dan gaya hidup bisa dijalani dengan lebih konsisten dan berkelanjutan,” ujar dr. Cipuk.

Menurutnya, GLP-1 sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu medis dalam proses penyesuaian metabolisme, bukan solusi tunggal atau instan untuk menurunkan berat badan.

Fokus pada Perubahan Gaya Hidup Berkelanjutan

Baca Juga: Cantik Saat Lebaran, ZAP Hadirkan 38 Paket Perawatan Sesuai Kebutuhan Kulit

Z-Weight Loss Program dirancang tidak berfokus pada pembatasan ekstrem atau target angka timbangan semata. Program ini bertujuan membantu tubuh menata ulang sinyal lapar, metabolisme, serta energi harian agar bekerja lebih teratur. Dengan pendekatan tersebut, perubahan gaya hidup diharapkan dapat dijalani secara realistis, aman, dan berkelanjutan.

ZAP juga menilai bahwa pengelolaan berat badan tidak dapat berjalan optimal jika hanya mengandalkan satu pendekatan. Oleh karena itu, dalam program ini ZAP berkolaborasi dengan sejumlah mitra yang memiliki visi sejalan, di antaranya FTL Gym dan Healthy Go.

FTL Gym berperan mendukung gaya hidup aktif melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan realistis, sementara Healthy Go membantu membangun kebiasaan makan yang lebih teratur melalui pilihan nutrisi yang seimbang dan mudah dijalani.

Baca Juga: Gak Perlu ke Gym, Ini 10 Latihan Kaki yang Bisa Kamu Coba di Rumah

Kolaborasi tersebut ditujukan untuk menciptakan ruang transisi yang aman bagi individu yang ingin membangun ulang gaya hidup tanpa tekanan, sekaligus mendukung proses penyesuaian metabolisme secara bertahap.

Z-Weight Loss Program di ZAP tersedia dalam beberapa pilihan, dengan harga mulai dari Rp4.999.000 untuk program intensif selama satu bulan.

Melalui pendekatan medis yang terintegrasi, hasil yang terukur, serta lingkungan perawatan yang suportif dan bebas penilaian, ZAP menegaskan bahwa beauty longevity bukan sekadar tren kecantikan.

Baca Juga: JUVA by ZAP Luncurkan InstaGlow Serum dengan Teknologi Visible Pink Capsule

Konsep ini menempatkan tubuh yang seimbang dan tidak sedang “berjuang” sebagai titik awal kecantikan, bukan hanya untuk terlihat lebih baik hari ini, tetapi untuk bertahan lebih sehat dalam jangka panjang.