Polemik yang menyeret Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata disebut tidak membuat Presiden Prabowo Subianto ikut pusing. Di tengah ramainya desakan mundur hingga wacana pemakzulan Gibran, Prabowo justru disebut tetap santai dan menjalani aktivitasnya seperti biasa.

Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, bahkan menyebut Prabowo terlihat “happy-happy” saat bertemu dengannya. Menurut Tamsil, tidak terlihat tanda-tanda Presiden terganggu dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang kembali memunculkan polemik terkait riwayat pendidikan Gibran.

“Presiden waktu kami ketemu terakhir itu saya lihat happy-happy aja. Bahkan sama sekali kalau disebut terganggu, tidak terganggu dengan keputusan MK,” ungkap Tamsil dalam diskusi politik di kanal YouTube Sinkos Indonesia, Jumat (16/10/2026).

Sikap Prabowo tersebut, kata Tamsil, juga tercermin dari cara Presiden membangun pemerintahan. Prabowo dinilai tetap membuka pintu kepada berbagai kelompok politik, termasuk sejumlah tokoh yang sebelumnya berada di posisi berseberangan dengan pemerintahan terdahulu.

Baca Juga: Gibran Gak Mau Mundur, Dinasti Jokowi Bisa Hancur Lebur

“Bahkan dia bisa menyusun kabinet yang konon dipersepsikan bahwa sedang merangkul orang-orang yang tidak disenangi oleh geng Solo,” jelas Tamsil.

Bagi Tamsil, langkah tersebut memperlihatkan bahwa Prabowo tidak terlalu membawa-bawa konflik politik masa lalu dalam menentukan siapa yang diajak bekerja sama.

“Ini juga menunjukkan bahwa orang ini tidak punya dendam,” katanya.

Pernyataan Tamsil menjadi menarik karena muncul ketika posisi politik Gibran tengah mendapat sorotan. Polemik tersebut mencuat setelah MK membacakan Putusan Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 pada 6 Oktober 2026.

Dalam pertimbangannya, hakim konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti yang dinilai meyakinkan berupa dokumen kelulusan luar negeri milik Gibran yang setara dengan tingkat SMA atau sederajat.

Majelis juga menyinggung dokumen yang digunakan dalam proses penyetaraan pendidikan. Dokumen tersebut disebut hanya menunjukkan keikutsertaan atau kehadiran dalam pendidikan, bukan bukti kelulusan.

Meski begitu, MK tidak sampai masuk ke pemeriksaan pokok perkara. Permohonan dinyatakan tidak dapat diterima karena pemohon dinilai tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan sengketa tersebut.

Baca Juga: Nasib Gibran di Tangan MA: Tamat Sudah Riwayat Wapres

MK juga menegaskan persoalan itu tidak lagi berada dalam ranah sengketa hasil pemilu lantaran Gibran telah resmi dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.

Di tengah situasi tersebut, jurnalis senior Edy Mulyadi membaca ada perubahan menarik dalam relasi politik Prabowo-Gibran. Menurutnya, Prabowo mulai memperlihatkan sikap yang lebih mandiri dalam menentukan arah politiknya.

Edy bahkan menyinggung dugaan adanya kekhawatiran di lingkungan Gibran seiring perkembangan polemik tersebut.

“Udah gak direken lagi. Orang Jawa bilang, gak dihitung lagi. Justru Gibran ini sering telepon salah satu utusan khusus presiden hanya untuk bertanya, 'Bapak hari ini ngapain?'” ujar Edy.

Kemudian, ia mengaitkannya dengan gestur Prabowo dalam sejumlah pertemuan publik.

“Kalau kita gestur dalam beberapa pertemuan publik kan betul-betul diabaikan... Prabowo sudah ini sudah, 'Weh gue presiden nih, gua nggak sama sekali nggak di bawah Jokowi',” tambahnya.

Namun, politisi senior Zulfan Lindan mengingatkan agar sikap tenang Prabowo tidak buru-buru diterjemahkan sebagai ketidakpedulian terhadap persoalan Gibran.

Menurut Zulfan, Prabowo justru dikenal sebagai sosok yang memperhitungkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil langkah politik.

“Prabowo ini intelijen, dia badan intelijen ada, kan masih menghitung-hitung,” tegas Zulfan.