Serangan udara yang dilakukan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu menjadi awal baru konflik geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dan meningkatnya risiko perekonomian dunia. Kondisi tersebut juga memberi efek domino terhadap pergerakan mata uang di kawasan Asia Tenggara, termasuk ASEAN, yang mengalami tekanan akibat arus modal keluar dan penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.
Melansir data Asian Bonds Online per Sabtu (16/5/2026), hanya ada 4 dari 11 mata uang ASEAN yang menguat tipis terhadap dolar AS, di mana mayoritas mata uang lainnya bergerak melemah. Mata uang dengan penguatan terbesar di ASEAN ialah ringgit Malaysia dengan apresiasi +3,2% (ytd) terhadap dolar AS.
Baca Juga: Pengamat Celios Bicara Soal Level Psikologis Nilai Tukar Rupiah, Perlu Jadi Perhatian Serius

Mengekor ringgit, mata uang dolar Brunei Darussalam dan dolar Singapura kompak menguat masing-masing +0,7% (ytd) terhadap dolar AS. Mata uang yang juga menguat atas dolar AS yakni kyat Myanmar dengan apreasiasi tipis 0,01% (ytd).
Sementara itu, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam dibandingkan mata uang ASEAN lainnya. Hingga perdagangan Rabu (13/5/2026), Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah bertengger di level Rp17.601 per dolar AS. Nilai tersebut menjadi level terlemah rupiah terhadap dolar sepanjang sejarah.
Data Asian Bonds Online mencatat bahwa rupiah saat ini bertengger di level Rp17.529 per dolar AS. Dengan level tersebut, artinya rupiah sudah melemah -5,1% sejak awal tahun (ytd). Bahkan, dibandingkan pekan sebelumnya, pelemahan rupiah mencapai -1,1%.
Merespons kondisi rupiah, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah meningkat karena konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Hal tersebut mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ungkapnya dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.