Sementara itu, Olivia Morrison mengungkapkan, salah satu pengalaman yang paling membekas adalah menjalani syuting free diving selama seharian di tengah laut. Meski melelahkan, pengalaman tersebut justru menjadi momen yang dirindukannya.
Sementara itu, Bimasena mengenang perjuangan para pemain dan kru dalam mengejar momen matahari terbit demi mendapatkan visual terbaik. Mereka bahkan harus bersiap sejak dini hari.
Wironggo juga menceritakan pengalaman menegangkan saat harus berenang di tengah laut sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB dalam kondisi gelap. Meski penuh tantangan, pengalaman tersebut semakin mempererat kedekatan di antara para pemain.
Di balik tantangan tersebut, aspek keselamatan menjadi perhatian selama proses produksi. Rachel Aseelah mengungkapkan bahwa pengambilan gambar bawah air dilakukan dengan pendampingan dan pengawasan tim terkait.
“Jujur seru banget, tapi tenang aja, kita juga selama syuting underwater itu benar-benar diamankan banget. Ada yang ngejagain, jadi pokoknya aman,” tukas Rachel.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya menjadi salah satu hal yang diperhatikan selama syuting. Rachel yang memiliki asma mengatakan, tim produksi tetap memberikan waktu istirahat yang cukup bagi para pemain.
“Aku tuh juga ada asma, tapi benar-benar enggak dipaksain. Aku tetap disuruh istirahat. Jadi jamnya juga bukan jam kerja yang toxic, masih bisa istirahat. Benar-benar safety first, have fun, dan enjoy semuanya,” katanya.
Bagi para pemain, suasana kerja yang menyenangkan juga didukung hubungan pertemanan yang terjalin, baik di dalam maupun di luar lokasi syuting. Salah satu pemeran mengungkapkan bahwa keakraban dengan rekan-rekan mainnya membuat proses produksi terasa lebih ringan meski melelahkan.
“Selama produksi, selama syuting pasti capek. Tapi karena aku sama sahabat-sahabat aku yang di film dan in real life, jadi pasti seru banget,” ungkapnya.
Ali Fikry pun menyebut, proyek ini sebagai salah satu pengalaman produksi film paling menyenangkan yang pernah dijalaninya. Selain kebersamaan para pemain, keindahan lokasi syuting turut membangkitkan semangat selama bekerja.
“Proses produksinya sangat-sangat menyenangkan. Kayaknya ini salah satu proyek film yang aku ngejalaninnya seru banget. Karena ada banyak teman-teman, terus lokasi syutingnya juga enak,” kata Ali.
Ia juga mengatakan, Banyuwangi dan Pulau Menjangan sebagai beberapa lokasi yang memberikan pengalaman tersendiri selama proses pengambilan gambar.
“Jadi semuanya itu membangun mood jadi lebih semangat syuting. Situasi syutingnya seru, jadi capeknya berkurang. Pokoknya semangat aja terus,” lanjutnya.
Tak hanya menghadirkan wajah-wajah muda, film ini juga menjadi momen kembalinya dua aktris senior, Diana Pungky dan Cut Keke, ke layar lebar. Diana Pungky, yang berperan sebagai ibu Astri, mengaku tak perlu berpikir panjang ketika menerima tawaran bermain dalam film ini.
“Saya kangen syuting. Dan kebetulan 5cm, saya senang dengan ceritanya. Zaman dulu 5cm memang film favorit aku, jadi enggak ada kata milih-milih lagi, langsung oke,” beber Diana.
Bermain bersama para aktor muda juga menjadi pengalaman menyenangkan bagi Diana. Ia mengaku menikmati energi dan suasana yang tercipta selama proses produksi.
Sementara itu, Cut Keke, yang berperan sebagai bunda Azizah, mengapresiasi semangat serta totalitas para pemain muda. Menurutnya, para pemeran menunjukkan kemampuan akting yang natural dan kekompakan yang kuat.
“Senang banget. Mereka anak-anak yang hiperaktif semuanya. Adegan-adegannya memang nekat banget, tapi keren banget sih. Harus nonton pokoknya. Luar biasa aktingnya, natural sekali, tidak diragukan lagi,” kata Cut Keke.
Ia juga menyoroti persiapan para pemain sebelum memasuki proses syuting. Menurut Cut Keke, para aktor telah menjalani reading cukup lama untuk mendalami karakter masing-masing, sehingga mampu membangun chemistry yang baik di depan kamera.
Selain menghadirkan petualangan dan dinamika persahabatan, film 5cm: Revolusi Hati turut menampilkan kisah cinta pertama dan kehangatan keluarga melalui karakter-karakter yang saling terhubung.
Roman King memerankan Zafran yang dikenal puitis dan memiliki jiwa seni, sementara Asep yang diperankan Ali Fikry hadir sebagai sosok pencair suasana dengan impian sederhana, yakni bisa mentraktir teman-temannya.
Di sisi lain, karakter Astri yang diperankan Olivia Morrison dan Azizah yang dimainkan Rachel Aseelah turut memperkaya cerita melalui dinamika persahabatan perempuan, ambisi akademik, dan hubungan keluarga.
Melalui perpaduan petualangan di alam terbuka, cerita persahabatan, cinta pertama, serta perjalanan menemukan jati diri, film ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton lintas generasi.
Dengan poster resmi yang telah diperkenalkan kepada publik, 5cm: Revolusi Hati dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 Desember 2026, bertepatan dengan momentum libur akhir tahun.