Mendiang Ciputra, salah satu tokoh kewirausahaan terbesar Indonesia, pernah berpesan bahwa kegagalan bukanlah musuh utama seorang pengusaha.
Justru, kegagalan adalah bagian dari proses yang harus dipersiapkan dan dihadapi dengan sikap yang matang.
Menurut Ciputra, dunia usaha tidak pernah lepas dari risiko. Seorang pelaku usaha bisa mengalami kegagalan berkali-kali. Namun yang membedakan pengusaha biasa dengan entrepreneur sejati adalah kemampuannya untuk bangkit kembali.
“Seorang entrepreneur, 10 kali gagal, 11 kali dia bangkit,” ungkap Ciputra dalam sebuah video yang dikutip Olenka, Rabu (21/1/2026).
Ciputra menekankan bahwa kegagalan tidak selalu harus ditakuti, selama kegagalan tersebut masih dalam batas yang bisa dikendalikan.
“Tentu jangan gagal yang benar-benar fatal. Ya, gagal kecil-kecil itu, itu biasa,” katanya.
Ciputra mengaku tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang bebas dari kesalahan. Ia mengakui bahwa dalam perjalanan bisnisnya, ia juga mengalami banyak kegagalan.
Namun, kata dia, sebagian besar kegagalan itu adalah kegagalan kecil yang justru menjadi pelajaran berharga.
“Saya juga banyak kegagalan saya lakukan, tapi yang kecil-kecil,” paparnya.
Menurutnya, kegagalan kecil adalah ruang belajar. Dari situlah seorang pengusaha membangun kepekaan, ketahanan mental, dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan.
Salah satu kegagalan terbesar yang pernah dihadapi Ciputra terjadi saat krisis ekonomi 1998. Namun, ia menegaskan bahwa bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun, perhitungan dan kesiapan tetap menjadi kunci.
“Yang fatal waktu krisis tahun 1998 yang lalu. Tapi karena sudah ada perhitungan, semua saya lakukan dengan baik,” jelasnya.
Baca Juga: Mental Mandiri ala Ciputra: Jangan Bersandar pada Belas Kasihan Orang Lain
Bagi Ciputra, keberanian dalam berbisnis tidak sama dengan nekat. Keberanian harus selalu disertai dengan perhitungan risiko yang matang.
“Dan sudah krisis, kita juga harus menghitung untuk berani mengalami risiko,” ujarnya.
Lebih jauh, Ciputra mengajarkan bahwa risiko bukan hanya tentang potensi kerugian, tetapi juga tentang kemampuan membaca peluang. Bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, selalu ada kesempatan bagi mereka yang jeli dan berani.
“Risiko tersebut termasuk sampai risiko memperhitungkan kesempatan,” kata Ciputra.
Namun, ia Kembali menegaskan bahwa kesempatan tersebut harus diambil dengan cara yang benar.
“Kesempatan dalam keadaan kesepitan tersebut, ambil kesempatan yang fair, yang sesuai dengan etika, sesuai dengan undang-undang,” tegasnya.
Dengan cara itulah, kata dia, seorang pengusaha tidak hanya bisa bangkit, tetapi juga tumbuh lebih besar.
“Ambil kesempatan untuk kita bangkit dan berkembang dengan besar,” tutup Ciputra.