Ketatnya persaingan dan tingginya tingkat kesulitan lintasan mewarnai nomor slalom Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Arung Jeram 2026 di Sungai Ayung, Badung, Bali, Minggu (27/9/2026) kemarin. Hampir seluruh tim harus menerima penalti setelah gagal melewati sejumlah gate downstream maupun upstream dengan sempurna.
Kesalahan dalam membaca arus dan menentukan jalur pun berpengaruh terhadap catatan waktu akhir. Nomor slalom merupakan salah satu nomor yang sangat teknikal dalam arung jeram.
Setiap tim dituntut memadukan kecepatan, ketepatan membaca karakter arus serta kemampuan mendayung maju dan mundur untuk melewati gate yang dipasang di sepanjang lintasan. Selain menjaga kecepatan, koordinasi keempat anggota tim menjadi kunci agar perahu dapat melewati setiap gate tanpa melakukan kesalahan.
Pada kategori senior putra, Jawa Barat menjadi tim tercepat dengan catatan waktu 2 menit 09,008 detik. Tim Jawa Barat dikenai penalti empat detik setelah tidak melewati gate 11 dan 13 pada bagian upstream dengan sempurna.
Jawa Timur menempati posisi kedua dengan selisih waktu 11,189 detik dari Jawa Barat. Tim Jatim juga menerima penalti empat detik setelah tidak melewati dua gate downstream dengan sempurna.
Sementara itu, Banten berada di posisi ketiga dengan catatan waktu 2 menit 21,594 detik setelah menerima penalti empat detik. Posisi keempat hingga kesepuluh secara berurutan ditempati DKI Jakarta, Bali A, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali B, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jambi.
Dominasi Jawa Barat berlanjut pada kategori senior putri yang diikuti delapan tim. Putri Priangan menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 2 menit 35,534 detik meski menerima penalti empat detik.
Jawa Tengah menempati posisi kedua dengan waktu 2 menit 38,667 detik setelah menerima penalti 10 detik karena tidak melewati lima gate dengan sempurna. Sementara itu, Jawa Timur merebut posisi ketiga dengan catatan waktu 2 menit 41,946 detik setelah dikenai penalti enam detik.
Baca Juga: FAJI Gelar Rakernas Matangkan Langkah ke PON 2028
Pada kategori U-19 putra, Jawa Timur menempati posisi terdepan dengan catatan waktu 2 menit 26,891 detik. Sumatera Selatan berada di posisi kedua dengan waktu 2 menit 43,593 detik, disusul Bali A di posisi ketiga dengan catatan waktu 2 menit 21,547 detik.
Meski mencatatkan waktu lebih cepat, Bali A tidak menempati posisi kedua karena penentuan peringkat didasarkan pada hasil run terbaik sesuai ketentuan perlombaan, di mana Sumatera Selatan finis di posisi run kedua. Persaingan di kategori ini juga diwarnai tingginya jumlah penalti. Sembilan tim peserta seluruhnya menerima penalti.
Jawa Timur dan Sumatera Selatan menjadi dua tim dengan penalti terendah, masing-masing delapan detik. Sementara itu, DKI Jakarta menerima penalti hingga 304 detik dan berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 3 menit 38,440 detik.
Di kategori U-19 putri yang diikuti tujuh tim, Jawa Timur keluar sebagai juara dengan catatan waktu 2 menit 54,719 detik setelah menerima penalti 54 detik. Bali A menempati posisi kedua dengan waktu 3 menit 05,434 detik dan penalti 62 detik.
Jawa Barat berada di posisi ketiga dengan waktu 3 menit 13,773 detik setelah menerima penalti 60 detik. Jawa Timur kembali menjadi yang tercepat pada kategori U-23 putra dengan catatan waktu 2 menit 22,622 detik dan penalti empat detik.
Jawa Tengah berada di posisi kedua dengan waktu 2 menit 25,100 detik dan penalti empat detik. DKI Jakarta melengkapi tiga besar dengan waktu 2 menit 25,805 detik setelah menerima penalti delapan detik.
Sementara itu, Jawa Barat memimpin kategori U-23 putri dengan catatan waktu 2 menit 23,422 detik. Menariknya, tim Jawa Barat menerima penalti 1 menit 44 detik, yang menjadi penalti terbesar di kategori tersebut, tetapi tetap mampu mencatatkan waktu tercepat.
Jawa Timur menempati posisi kedua dengan catatan waktu 3 menit 11,108 detik setelah menerima penalti 58 detik, sedangkan Kalimantan Timur berada di posisi ketiga dengan waktu 3 menit 18,082 detik dan penalti 10 detik.
Kapten tim Kaltim U-23, Jovita Ade Dewi, mengatakan nomor slalom membutuhkan kemampuan teknis dan ketepatan dalam membaca karakter arus. Menurut dia, setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama ketika melewati setiap gate, terutama gate upstream yang mengharuskan perahu bergerak melawan arus.
"Cukup memuaskan karena perlombaan ini mengandalkan skill dan teknik. Kami harus membaca bagaimana kondisi arus dan bagaimana melewati gate hijau maupun gate merah. Untuk gate hijau, kami cukup melewatinya dengan lurus. Sementara untuk gate merah, kami harus melawan arus. Jadi, seluruh awak yang berjumlah empat orang harus masuk dan melewati gate tersebut," ujar Jovita.
Menurut Jovita, gate 9 dan 11 menjadi bagian yang cukup menantang bagi timnya karena mengharuskan mereka melawan arus. Pada gate upstream 11, pemilihan jalur menjadi penting karena karakter arus di lintasan tersebut cukup kuat.
"Kuncinya, kalau bisa mengambil gate upstream di gate 9 yang dekat dinding sungai, kami bisa mengambil jalur kanan untuk melewati gate 10 karena arusnya lebih kencang. Kalau mengambil jalur kiri, banyak pillow," jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kaltim memilih strategi memotong arus dari gate 9 menuju gate 11 melalui jalur kanan sebelum kembali menghadapi arus di gate 13.
"Kami mengambil solusi di gate 11 dengan memotong arus. Dari gate 9 menuju gate 11, kami mengambil jalur sebelah kanan. Setelah itu, kami kembali harus melawan arus di gate 13," ujar Jovita.
Jovita tetap optimistis timnya dapat bersaing memperebutkan medali. Ia menyebut Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai dua tim yang sejauh ini menjadi pesaing terberat di kelompok U-23.
"Yakin. Semoga dari tiga medali yang diperebutkan, salah satunya bisa kami dapatkan," pungkasnya.