Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia Ras MD mengatakan pernyataan kontroversial Ketua Umum sukarelawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie mengenai pergantian Presiden Prabowo Subianto sebelum Pilpres 2029 hanyalah akal-akalan aliansi politik Jokowi Geng Solo untuk mengatrol elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang saat ini masih tiarap.
Ras MD mengatakan, sejauh ini, elektabilitas PSI masih sangat kecil kendati Jokowi sudah turun gunung. Untuk itu mereka dipaksa memanfaatkan berbagai momentum untuk mendongkrak elektabilitas Partai Politik besutan Kaesang Pangarep itu mengingat waktu menuju Pemilu 2029 semakin terbatas.
“Kita harus melihat bahwa PSI sedang membangun elektabilitas yang masih tergolong kecil dengan menangkap berbagai momentum,” kata Ras MD kepada wartawan Jumat (28/8/2027).
Harus diakui, elektabilitas PSI masih belum kuat sebagai modal yang dibawa menuju Pemilu mendatang. Tengok saja hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis beberapa waktu lalu. Elektabilitas PSI hanya mentok 4,1 persen saja.
Angka ini jauh lebih mendingan kalau dibandingkan dengan hasil survei dari lembaga lain, dimana elektabilitas PSI hanya 4 persen saja, padahal Jokowi sudah turun gunung menggendong PSI dalam berbagai blusukan yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
“Saya tidak melihat jika PSI dengan modal elektabilitas 2 sampai 4 persen di berbagai lembaga survei menjadi bukti jika PSI saat ini sudah kuat. Survei ini punya margin error,” ujarnya.
Ras MD mengatakan, dengan pernyataan kontroversial yang dilontarkan Budi Arie, maka PSI bakal terus menjadi perbincangan, dalam kasus ini, PSI muncul sebagai pahlawan yang membela Jokowi seraya melawan Budi Arie.
“Tujuannya agar PSI selalu menjadi perbincangan di berbagai ruang-ruang publik,” ujarnya.
PSI Ingin Dilihat Sebagai Kelompok yang Tak Puas Pada Prabowo
Ras MD mengatakan, untuk mendongkrak elektabilitas mereka, PSI membidik kelompok yang saat ini tidak puas pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang secara kuantitas tergolong masih sangat banyak, untuk itu mereka berupaya agar dilihat sebagai bagian dari kelompok yang tak puas ini, pintu masuk menuju kesana adalah pernyataan kontroversial Budi Arie.
“Pernyataan Budi Arie perihal isu percepatan pemilu adalah pesan yang tidak bisa diartikan secara kaku dan meyakinkan jika PSI sedang merancang gerakan radikal. Saya membacanya jika PSI sedang membangun pandangan jika ia berada dalam kelompok yang tak puas terhadap rezim Prabowo,” ujarnya.
“Kan kelompok tak puas dengan rezim Prabowo di atas 50 persen. Bahkan di data terbaru Tempo ketidakpuasan Prabowo mencapai 60 persen,” tambahnya.
Dengan memasuki ruang politik kelompok tersebut, PSI dinilai berpeluang mendapatkan ceruk elektoral baru.
“Melebur ke dalam kelompok yang tak puas adalah berkah bagi partai sekelas PSI yang sedang membangun elektabilitasnya. Apalagi jika respons kelompok tak puas terbuka bagi PSI,” pungkasnya.