PT Bank Permata Tbk (BNLI) alias Permata Bank sepanjang tahun 2025 mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp3,6 triliun pada akhir tahun 2025. Sementara itu, Permata Bank mencatatkan pertumbuhan total pendapatan sebesar 3,8% menjadi Rp12,6 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan yang signifikan dari Pendapatan Non Bunga sebesar 34,1% menjadi Rp2,6 triliun.

Di sisi neraca, total aset Bank meningkat 3,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp268,3 triliun, sementara simpanan nasabah tumbuh 3,9% YoY menjadi Rp192,8 triliun, didukung oleh pertumbuhan CASA sebesar 20,1% sehingga rasio CASA meningkat menjadi 63,9%.

Baca Juga: CIMB Niaga Catatkan Laba sebelum Pajak Konsolidasi sebesar Rp8,8 Triliun pada 2025

"Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan. Kami yakin dengan tetap menjaga skala dan relevansi, Permata Bank dapat terus tumbuh berkelanjutan serta menjadi bank pilihan dan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari, keluarga dan bisnis mereka," ujar Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, beberapa waktu lalu, dikutip Rabu (25/3/2026).

Sementara itu, rasio Loan-to-Deposit (LDR) Permata Bank tercatat 84,5%, rasio likuiditas Basel III berada jauh di atas batas minimum dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata 296,5%, serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) 126,8%. Selanjutnya, rasio CAR sebesar 34,6% dan CET-1 sebesar 26,6%, menjadikannya salah satu yang terkuat di antara bank-bank umum komersial terbesar di Indonesia.

Penyaluran kredit Permata Bank tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp163,3 triliun dengan kontribusi utama dari segmen korporasi yang meningkat 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga stabil dengan rasio NPL Gross di level 2,1% dan Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 6,3%. Bank juga mempertahankan tingkat pencadangan yang konservatif dengan rasio NPL Coverage sebesar 356% dan LAR Coverage sebesar 118%, serta secara proaktif melakukan restrukturisasi, litigasi, dan penjualan aset untuk penyelesaian kredit bermasalah.

Kontribusi Permata Bank Unit Usaha Syariah juga menunjukkan kinerja positif. Sepanjang tahun 2025, Permata Bank Unit Usaha Syariah mencatat Laba Operasional sebelum Provisi sebesar Rp785,3 miliar, tumbuh 8,1% YoY. Pertumbuhan ini didukung dengan Pendapatan Setelah Distribusi Bagi Hasil yang tumbuh mencapai 6,4% YoY dan konsistensi pengendalian biaya dengan baik.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,1–5,2% pada 2026. Potensi peningkatan menuju 5,2–5,3% terbuka apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural semakin memperkuat keyakinan pelaku usaha serta konsumen. Dalam proyeksi tersebut, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi diperkirakan tetap menjadi penopang utama, sementara volatilitas pasar keuangan global serta dinamika perdagangan dunia menjadi faktor yang perlu dicermati.

PIER menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka secara terbatas pada 2026, seiring inflasi inti yang relatif terjaga dan prospek penurunan suku bunga global yang lebih gradual. Namun, tekanan harga pangan yang bersifat musiman serta risiko dari pelemahan nilai tukar perlu diantisipasi agar inflasi tetap terkendali. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengelola volatilitas pasar, dan mempertahankan persepsi risiko yang sehat bagi pasar keuangan domestik, sekaligus memastikan transmisi kebijakan ke pembiayaan sektor produktif berjalan efektif.