Percepatan elektrifikasi kendaraan komersial dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk menekan biaya logistik sekaligus mengurangi emisi karbon di Indonesia. Namun, adopsi kendaraan listrik di sektor ini masih membutuhkan dukungan insentif pemerintah, kesiapan infrastruktur, dan integrasi teknologi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku industri.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Moeldoko, mendorong pemerintah memperluas pemberian insentif kendaraan listrik ke segmen komersial, seperti truk dan bus. Menurutnya, kendaraan tersebut perlu mendapat perhatian karena berkontribusi terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan emisi karbon.

“Pemerintah belum memikirkan insentif untuk mobil-mobil komersial. Kalau pemberian insentif sebagai dasarnya adalah penggunaan BBM, yang kedua penyumbang emisi yang semakin banyak, menurut saya, (kendaraan komersial seperti truk dan bus) banyak kontribusinya dalam memproduksi CO2,” kata Moeldoko dalam konferensi pers PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Baca Juga: Era Mobil Listrik Buka Peluang Karier Baru bagi Pengemudi Transportasi Online

Moeldoko menilai, pemberian insentif perlu mempertimbangkan harga kendaraan komersial listrik yang relatif tinggi, konsumsi BBM, serta kontribusinya terhadap emisi. Selain mendukung pengurangan emisi, elektrifikasi armada juga berpotensi meningkatkan efisiensi distribusi barang dan menekan biaya dalam rantai pasok.

“Kalau pemerintah memberikan insentif, salah satu strategi untuk menekan inflasi bisa dijalankan,” ujarnya.

Isu elektrifikasi kendaraan komersial menjadi salah satu fokus PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 yang akan digelar PERIKLINDO bersama Gemalindo Kreasi Indonesia pada 28 Oktober 2026 di Mövenpick Hotel Jakarta. Konferensi ini akan mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, peneliti, dan penyedia teknologi untuk membahas peluang serta tantangan pengembangan kendaraan listrik di berbagai sektor.

Mengusung tema “The Future of a Clean and Efficient Mobility”, PEVC 2026 mengangkat dua subtema utama, yakni “Green Commercial Fleet: Transforming Logistics with Electric Vehicles” dan “Beyond Roads & Last-Mile: Optimizing Urban Delivery, Maritime, and Industrial Electrification”.

Baca Juga: Hyundai Motor Cetak Rekor Positif di Tengah Penguatan Kendaraan Hybrid pada Kuartal I/2026

Subtema pertama berfokus pada percepatan penggunaan kendaraan listrik untuk armada komersial, sedangkan subtema kedua menyoroti optimalisasi distribusi perkotaan, elektrifikasi sektor maritim, serta penerapan teknologi listrik di industri.

Penggunaan kendaraan listrik untuk armada logistik berpotensi membantu perusahaan mengoptimalkan biaya operasional. Selain pengeluaran energi, efisiensi juga dapat diperoleh melalui pengelolaan armada dan perawatan kendaraan yang lebih terencana.

Meski demikian, keputusan beralih ke kendaraan listrik perlu mempertimbangkan keseluruhan biaya kepemilikan atau Total Cost of Ownership (TCO), yang mencakup harga pembelian kendaraan, biaya energi, perawatan, serta kebutuhan infrastruktur selama masa penggunaan.

Perluasan elektrifikasi armada komersial juga bergantung pada kesiapan infrastruktur. Kejelasan skema tarif listrik untuk sektor niaga, keandalan jaringan listrik di jalur logistik utama, serta pengembangan insentif untuk pengadaan dan konversi armada menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Kesiapan infrastruktur dan sistem manajemen daya semakin penting bagi perusahaan dengan kebutuhan operasional intensif, termasuk layanan rantai dingin (cold chain) yang membutuhkan pengendalian suhu secara konsisten. Karena itu, pengembangan ekosistem logistik hijau memerlukan kolaborasi antara produsen kendaraan listrik untuk segmen bisnis ke bisnis (B2B), penyedia solusi telematika dan Internet of Things (IoT), perusahaan energi seperti PT PLN (Persero), serta pelaku industri rantai pasok.

Di sisi lain, konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk memberikan kepastian kepada pelaku usaha dalam merencanakan investasi. Dukungan pemerintah diperlukan agar perusahaan dapat memperhitungkan manfaat ekonomi kendaraan listrik sekaligus mengantisipasi kebutuhan operasional dan infrastruktur dalam jangka panjang.

Selain transportasi darat, PEVC 2026 akan menyoroti peluang elektrifikasi pada distribusi perkotaan, sektor maritim, dan industri. Integrasi moda transportasi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk membangun sistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pemanfaatan teknologi digital juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), misalnya, dapat membantu pengelolaan armada melalui analisis data untuk mendukung pengambilan keputusan operasional.

Sementara itu, pemanfaatan baterai bekas sebagai sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS) berpotensi mendukung penerapan ekonomi sirkular, dengan tetap memperhatikan kondisi baterai, aspek keselamatan, dan kelayakan teknis.

Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk regulator, perusahaan energi, asosiasi logistik, serta pengembang teknologi transportasi listrik. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penerapan solusi rendah emisi yang sesuai dengan kebutuhan operasional industri.

Melalui PEVC 2026, PERIKLINDO dan Gemalindo Kreasi Indonesia berharap diskusi mengenai elektrifikasi armada komersial, optimalisasi distribusi, transportasi maritim, dan elektrifikasi industri dapat membuka peluang kemitraan strategis serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan.

Pengembangan logistik hijau diharapkan tidak hanya mendukung pengurangan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi rantai pasok, menekan biaya distribusi, dan memperkuat daya saing industri Indonesia dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.