Di balik keterampilan seorang penata rambut dan tenaga kecantikan profesional, ada sosok pendidik yang berperan membentuk kemampuan, menanamkan etika kerja, hingga menumbuhkan kepercayaan diri para murid. Peran beauty educators ini menjadi semakin penting seiring berkembangnya industri kecantikan Indonesia yang membutuhkan talenta dengan kompetensi sesuai tren dan teknologi terkini.
Memperingati World Teachers’ Day, L’Oréal Indonesia mengangkat kontribusi para beauty educators atau pendidik kecantikan yang selama ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi baru tenaga profesional, sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi melalui keterampilan tata rambut dan kecantikan.
Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, Melanie Masriel, menuturkan, kebutuhan industri kecantikan terhadap tenaga terampil tidak terlepas dari peran para pendidik, baik di lingkungan pendidikan formal maupun komunitas.
“Industri kecantikan sangat membutuhkan peran beauty educators, mulai dari membina generasi muda yang bersiap memasuki dunia kerja, meningkatkan keterampilan karyawan, hingga membekali masyarakat dengan keahlian kecantikan yang membuka peluang penghasilan dan kehidupan yang lebih mandiri,” tutur Melanie, dikutip dari keterangan resminya, Kamis (29/10/2026).
Di lingkungan L’Oréal Indonesia, peran tersebut hadir melalui pendidik vokasi di SMK mitra program Hairducation serta trainer Beauty for a Better Life (BFBL) yang mendampingi masyarakat dari kelompok rentan.
Menurut Melanie, kontribusi para pendidik tersebut layak mendapatkan pengakuan karena mereka tidak hanya mengembangkan keterampilan, tetapi juga ikut membentuk masa depan industri kecantikan Indonesia.
Dedikasi itu tercermin dalam perjalanan Achadiningtyas atau Ibu Aca, trainer Beauty for a Better Life Training Center Cianjur, dan Made Sumiati, guru tata kecantikan di SMKN 3 Bogor.
Selama kurang lebih 45 tahun berkecimpung di industri kecantikan, Ibu Aca telah menjalani beragam peran, mulai dari bekerja di salon sejak usia 20 tahun, mengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, hingga menjadi asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur.
Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, ia telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta.
Dalam proses mengajar, Ibu Aca bertemu dengan peserta dari berbagai latar belakang. Sebagian ingin kembali bekerja setelah jeda karier, sementara lainnya harus membagi waktu belajar dengan tanggung jawab keluarga. Tak sedikit pula peserta yang masih meragukan kemampuan diri sendiri.
Kondisi tersebut membuatnya memahami bahwa setiap peserta membutuhkan pendekatan berbeda. Ia menyesuaikan ritme pengajaran, menyederhanakan materi bila diperlukan, serta memberikan dorongan agar peserta berani memanfaatkan keterampilan yang telah dipelajari.
“Mengajar tata rambut tidak cukup hanya dengan menunjukkan teknik. Saya juga harus terus belajar karena kebutuhan di industri berubah, sementara setiap peserta datang dengan kondisi yang berbeda. Ada yang cepat menguasai materi, ada pula yang perlu lebih banyak waktu dan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri,” kata Ibu Aca.
“Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” lanjutnya.
Pendampingan yang dilakukan Ibu Aca bahkan berlanjut setelah pelatihan berakhir. Sejumlah pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, kerap menghubunginya untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja. Jaringan tersebut turut membuka jalan bagi peserta untuk memperoleh kesempatan berkarier.
Baca Juga: L’Oréal Brandstorm 2026: Mahasiswa ITB Juara Nasional, Siap Wakili Indonesia ke Paris