Selain kondisi penyakit, kualitas udara menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan penderita asma sebelum berolahraga di luar ruangan. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gejala, terutama saat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam ketika berlari.

Dokter Tirta juga menyoroti risiko tersebut di tengah kondisi polusi udara, termasuk asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak pada masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.

“Dia lari dikit, apalagi kalau polusi gini. Itu berbahaya. Polusi gini, ada orang asma disuruh lari,” tukasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penderita asma perlu mewaspadai penurunan kualitas udara, bukan hanya mengandalkan kemampuan fisik atau target jarak tempuh. Bagi orang dengan saluran pernapasan yang sensitif, berolahraga ketika udara tercemar dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan pernapasan.

“Jadi buat teman-teman yang asma, musuh kalian tuh adalah kualitas udara,” kata Dokter Tirta.

Lebih jauh,Dokter Tirta secara khusus menyinggung masyarakat yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Menurutnya, paparan asap dapat memperburuk kondisi penderita asma dan membuat gejala lebih sulit dikendalikan.

“Kualitas udara kayak gini nih, apalagi teman-teman yang di Kalimantan, Papua, Sumatera yang kena pembakaran hutan tuh. Wah, itu kalau orang asma kena udara gitu, enggak sembuh-sembuh, tambah parah malah,” tuturnya.

Ia pun menegaskan pentingnya udara bersih sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa persoalan polusi udara dan asap kebakaran hutan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu, mengingat kualitas lingkungan turut menentukan risiko kesehatan yang dihadapi masyarakat.

“Ingat, udara bersih adalah kewajiban negara,” tegasnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Ingatkan Risiko Gym Tengah Malam, Ini yang Perlu Diperhatikan