Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta, mengingatkan penderita asma untuk memperhatikan kondisi kesehatan dan kualitas udara sebelum melakukan olahraga lari, terutama pada jarak jauh seperti 10 kilometer.

Pasalnya, polusi udara dapat memperburuk gejala asma, khususnya pada orang yang penyakitnya belum terkontrol dengan baik.

Menurut Dokter Tirta, keamanan berlari bagi penderita asma sangat bergantung pada kondisi penyakit dan kemampuan mengendalikan gejalanya. Asma yang tidak terkontrol dapat kambuh sewaktu-waktu, terlebih ketika seseorang melakukan aktivitas fisik di tengah paparan polusi udara.

“Bagi yang punya penyakit asma, apakah aman berlari pada jarak 10 km? Tergantung asmanya terkontrol atau enggak. Kalau asmanya tuh tidak terkontrol, sangat berbahaya. Karena bisa kambuh kapan pun, dan kalau kamu bisa menunjukkan gejala eksaserbasi akut, itu bahaya,” ungkap Dokter Tirta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya dr.tirta, Senin (19/10/2026).

Dokter Tirta menjelaskan, eksaserbasi akut merupakan kondisi ketika gejala asma memburuk secara tiba-tiba, misalnya ditandai dengan sesak napas, mengi, batuk, atau dada terasa sesak. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas dan, dalam kasus berat, membutuhkan pertolongan medis segera.

Ia pun menuturkan bahwa asma merupakan penyakit kronis yang umumnya tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi gejalanya dapat dikendalikan melalui penanganan yang tepat.

Karena itu, kata dia, penderita asma tetap berpeluang melakukan olahraga, termasuk lari, selama kondisinya terkontrol dan aktivitas tersebut sesuai dengan rekomendasi dokter.

“Tetapi kalau asmanya terkontrol, karena asma tuh adalah sebuah penyakit yang enggak bisa sembuh total, tapi bisa dikontrol. Jadi kalau asmanya terkontrol dengan baik, dia bisa lari asal dalam pantauan dokter spesialis paru. Tapi kalau asmanya tidak terkontrol, wah itu yang berbahaya,” katanya.

Baca Juga: Karhutla Tak Kunjung Usai, Dokter Tirta Ingatkan Dampak Asap dan Pentingnya Kepedulian

Selain kondisi penyakit, kualitas udara menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan penderita asma sebelum berolahraga di luar ruangan. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gejala, terutama saat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam ketika berlari.

Dokter Tirta juga menyoroti risiko tersebut di tengah kondisi polusi udara, termasuk asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak pada masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.

“Dia lari dikit, apalagi kalau polusi gini. Itu berbahaya. Polusi gini, ada orang asma disuruh lari,” tukasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penderita asma perlu mewaspadai penurunan kualitas udara, bukan hanya mengandalkan kemampuan fisik atau target jarak tempuh. Bagi orang dengan saluran pernapasan yang sensitif, berolahraga ketika udara tercemar dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan pernapasan.

“Jadi buat teman-teman yang asma, musuh kalian tuh adalah kualitas udara,” kata Dokter Tirta.

Lebih jauh,Dokter Tirta secara khusus menyinggung masyarakat yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Menurutnya, paparan asap dapat memperburuk kondisi penderita asma dan membuat gejala lebih sulit dikendalikan.

“Kualitas udara kayak gini nih, apalagi teman-teman yang di Kalimantan, Papua, Sumatera yang kena pembakaran hutan tuh. Wah, itu kalau orang asma kena udara gitu, enggak sembuh-sembuh, tambah parah malah,” tuturnya.

Ia pun menegaskan pentingnya udara bersih sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa persoalan polusi udara dan asap kebakaran hutan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu, mengingat kualitas lingkungan turut menentukan risiko kesehatan yang dihadapi masyarakat.

“Ingat, udara bersih adalah kewajiban negara,” tegasnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Ingatkan Risiko Gym Tengah Malam, Ini yang Perlu Diperhatikan