Perjalanan bisnis atau kewirausahaan tak selalu dimulai dari peluang besar atau ide cemerlang. Bagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020–2024, Sandiaga Salahuddin Uno, langkah awal membangun bisnis justru lahir dari situasi paling mendesak: bertahan hidup.

Sandiaga mengenang kembali awal perjalanannya pada 1997, saat krisis dan pemutusan hubungan kerja menjadi titik balik hidupnya.

“Kembali ke awal tahun 97, waktu saya memulai usaha itu, situasinya memang sangat berbeda. Startup yang saya lakukan itu bukan karena peluang, tapi karena necessity,” tutur Sandiaga, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin (26/1/2026).

Dikatakan Sandiaga, saat itu, pilihan berwirausaha bukanlah strategi jangka panjang, melainkan cara agar tetap bisa bertahan.

“Saya waktu itu di-PHK dari pekerjaan, satu yang melanda sekitar waktu memulai periode itu adalah survival,” lanjutnya.

Dalam fase survival tersebut, Sandiaga menggambarkan bahwa tidak ada kemewahan untuk memilih. Apa pun yang bisa dilakukan, selama itu membantu tetap bertahan, harus dijalani.

“Dalam suatu survival, acuan survival itu adalah apa aja yang kita kerjain. Pokoknya di mana kita harus bisa tetap survival,” katanya.

Ia bahkan mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang tercebur ke air.

“Ibarat kita kecempurung ke air, kita harus pakai gaya apa pun supaya mengapung," tukasnya.

Baca Juga: Kerajaan Bisnis Saratoga Group, Milik Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno

Namun, menurut Sandiaga, bertahan hidup dan mengembangkan bisnis ke level berikutnya adalah dua hal yang sangat berbeda. Ketika sebuah usaha mulai memikirkan pertumbuhan dan keberlanjutan, pendekatannya pun harus berubah total.

“Kalau kita berbicara mengenai scale up, ini betul-betul adalah a different ballgame altogether,” tegasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa pada tahap survival, seorang pelaku usaha bisa saja ‘mengapung’ dengan berbagai cara seadanya.

“Kalau kita untuk survival, startup itu kita bisa gaya ngapung, model kiri-kanan, tangan kesamping kiri-kanan. Yang penting asal ngapung, kita bisa lakukan itu,” ujar Sandiaga.

Namun, cara tersebut tidak cukup ketika bisnis sudah memiliki tujuan yang lebih besar. Saat memasuki fase scale up, kata dia, disiplin, perencanaan, dan keterampilan menjadi kunci utama.

“Begitu kita memiliki suatu tujuan dan mulai menata daripada business plan kita, kita harus belajar betul-betul skill untuk scale up,” katanya.

Sandiaga pun kembali menggunakan analogi air untuk menggambarkan perubahan mindset ini.

"Bagaimana kita belajar berenang bebas, bagaimana teknik pernafasan, bagaimana kita bisa membaca arus, bagaimana kita bisa mempelajari rhythm, sehingga kita bisa mencapai tujuannya itu dengan baik," pungkasnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno: UMKM Penyelamat Pertumbuhan Ekonomi