Eskalasi politik yang kian memanas di Timur Tengah turut menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK tak menampik bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memberi efek domino terhadap pasar keuangan dan pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menilai bahwa eskalasi yang terjadi turut meningkatkan ketidakpastian global serta mendorong permintaan tinggi terhadap instrument safe haven. Maka dari itu, lanjutnya, Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi hal tersebut.
"Dalam situasi saat ini, kami melihat bahwa pasar negara berkembang seperti Indonesia dituntut untuk menunjukkan integritas dan likuiditas yang kuat sekaligus tata keuangan yang kredibel supaya tetap kompetitif untuk menarik aliran modal asing," tegas Friderica dalam konferensi pers RDKB OJK di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: OJK Gandeng Bareskrim Polri untuk Perkuat Penegakan Hukum di Sektor Jasa Keuangan
Sosok yang akrab disapa Kiki ini menambahkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan integritas dan likuiditas tersebut ialah melalui reformasi struktural untuk memperkuat fundamental sektor keuangan Indonesia. Tak hanya itu, OJK juga akan terus memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak mulai dari SRO pasar modal, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam merespons situasi global saat ini.
"Kami menjalin kerja sama dan sinergi yang sangat baik dengan terus melakukan koordinasi erat, terutama di saat-saat seperti ini," tambahnya lagi.