Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti mengatakan, Presiden Prabowo Subianto tampaknya sengaja tak memberi job desk yang jelas kepada wakilnya Gibran Rakabuming Raka. Selama dua tahun masa kepemimpinan keduanya, Gibran terkesan dibiarkan berjalan sendiri tanpa arahan yang jelas. 

Hal tersebut mengindikasikan adanya ketegangan politik antara kedua kubu yang membuat hubungan mereka berjarak dan berimbas pada rapor merah kinerja pemerintahan sebagaimana temuan  Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang dirilis baru-baru ini. 

Baca Juga: Tegur Keras Doli Golkar Gegara Getol Bongkar Skandal Ijazah Gibran, Kanda Bahlil Langsung Terbang ke Solo

"Nah, cuma biasanya di mana pun, wakil presiden kerap kali diberi peran oleh presidennya, nah ini kan yang tidak kita lihat," kata Bivitri dilansir Olenka.id Selasa (19/10/2026). 

Bivitri kemudian membandingkan peran Gibran dengan sejumlah wakil presiden terdahulu seperti Jusuf Kalla (JK) saat menjadi wakil presiden pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004-2009. Pada periode tersebut SBY memberi mandat dan tugas yang sangat jelas buat JK, tak main-main JK bahkan dipercayakan mengemban sederet tugas berat seperti penanganan bencana dan negosiasi politik baik di dalam dan di luar negeri. 

"Wakil Presiden Jusuf Kalla diberi banyak peran, antara lain dalam negosiasi konflik dan penanganan bencana," ujarnya. 

Tak hanya kepada JK, saat berdampingan dengan Boediono pada 2009-2014, SBY kembali menunjukan kepercayaannya kepada wakil presiden, dimana Boediono dipercayakan mengemban sejumlah tugas di dalam pemerintahan. 

Baca Juga: Siapa Aktor dan Penumpang Gelap dalam Skandal Ijazah Gibran?

"Pak Boediono juga demikian, ada peran tertentu untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Dulu kan ada penilaian untuk kementerian-kementerian dan seterusnya. Jadi ada peran-peran tertentu yang bisa diberikan kepada wakil presiden," pungkasnya.