Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa program Koperasi Merah Putih (KMP) dirancang tidak sekadar sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi desa, tetapi juga sebagai entitas usaha yang harus mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Menurut pria kelahiran 27 Juli 1967 itu, setiap koperasi yang tergabung dalam KMP memiliki indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI) yang berorientasi pada profitabilitas.
Karena itu, kata Ferry, koperasi diwajibkan menjalankan prinsip-prinsip bisnis yang profesional serta menerapkan tata kelola yang hati-hati dan bertanggung jawab.
“Memang benar tadi bahwa KPI-nya karena harus untung, dia harus menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian, prinsip-prinsip bisnis yang benar, dan oleh karena itu dalam proses pelatihan kita sekarang pun juga melibatkan teman-teman dari bank, khususnya Bank Himbara,” papar Ferry, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Rabu (25/2/2026).
Untuk mendukung kesiapan koperasi desa, lanjut Ferry, Kementerian Koperasi melibatkan bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam program pelatihan dan pendampingan.
Adapun, fokus pelatihan tidak hanya pada pengelolaan usaha, tetapi juga pada peningkatan kemampuan masyarakat desa dalam mengakses pembiayaan formal.
Ferry mengungkapkan bahwa pada awalnya pihak perbankan mempertanyakan kesiapan koperasi desa dalam mengajukan pembiayaan karena masih terbatasnya pemahaman tentang mekanisme kredit dan penyusunan proposal usaha.
“Bank Himbara nanya ke saya pertama kali, Pak Ferry itu gimana mereka kan nggak ngerti tata cara pencairan kredit atau bagaimana mereka bikin proposal bisnis. Saya bilang ke teman-teman Himbara, nah tugasnya kalian tuh ajarin orang desa, jangan ngajarin korporate dulu,” paparnya.
Baca Juga: Kenapa Gerai Koperasi Merah Putih Belum Terlihat? Ini Penjelasan Menkop Ferry Juliantono
Ferry menilai, selama ini sebagian besar program perbankan lebih banyak berfokus pada sektor korporasi.
Padahal, menurutnya, masyarakat desa terutama generasi muda perlu mendapatkan akses pengetahuan yang sama agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
“Semua bank ngurusinnya korporate semua. Ajarin sekarang orang-orang desa, anak-anak muda di desa-desa itu tata cara pencairan kredit, bikin proposal bisnis yang baik dan benar,” tukas Ferry.
Lebih lanjut, Ferry pun menegaskan bahwa masyarakat desa tidak perlu ragu untuk mengembangkan ide usaha dan menyusun proposal bisnis.
Menurutnya, kehadiran Koperasi Merah Putih dinilai membuka peluang pasar baru yang dapat menyerap berbagai produk lokal.
“Dan sekarang nggak usah takut lagi untuk bikin proposal bisnis karena kalau mau bikin produk ataupun apapun itu bisa dijual di new emerging market yang baru yang namanya kooperasi desa itu,” tandasnya.
Baca Juga: Sudah Ada Koperasi Merah Putih, Menkop Ferry Wanti-wanti Indomaret Cs Masuk Desa