Nama Beatrice Gumulya telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan tenis putri Indonesia. Kariernya terbentang sejak usia remaja, membawa dirinya ke berbagai panggung internasional hingga akhirnya menemukan babak baru sebagai pelatih sekaligus penggerak perkembangan olahraga padel di Tanah Air.

Perjalanan panjang tersebut tidak hanya mencerminkan prestasi olahraga, tetapi juga ketekunan, adaptasi, serta semangat untuk terus berkembang.

Lantas, seperti apa sosok Beatrice Gumulya lebih dekat? Dikutip dari berbagai sumber pada Rabu (11/2/2026), berikut Olenka ulas profil singkatnya.

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari Wikipedia, Beatrice Gumulya lahir pada 1 Januari 1991 dan tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan olahraga tenis. Ia merupakan adik dari Sandy Gumulya, yang juga dikenal sebagai petenis Indonesia. Sejak kecil, Beatrice sudah akrab dengan lapangan tenis karena sering mengikuti kakaknya berlatih.

Ketertarikan awal yang sekadar ikut bermain perlahan berubah menjadi keseriusan. Orang tuanya kemudian mendukung penuh minat tersebut dengan menyediakan fasilitas latihan yang lebih baik.

Sejak usia sekitar 13 tahun, kehidupan Beatrice nyaris sepenuhnya diisi oleh latihan dan kompetisi tenis, bahkan ia menjalani homeschooling agar jadwal latihan tetap optimal.

Kini, dalam kehidupan pribadinya, Beatrice juga aktif mengembangkan dunia olahraga bersama sang suami, Panji Untung Setiawan, melalui pendirian akademi olahraga, sekaligus membangun ekosistem pembinaan atlet muda di Indonesia.

Jejak Pendidikan

Perjalanan akademik Beatrice tidak terlepas dari dunia olahraga. Masih dikutip dari Wikipedia, setelah aktif berkompetisi di sirkuit ITF hingga 2010, ia melanjutkan pendidikan di Clemson University, Amerika Serikat, pada musim gugur 2011 dengan mengambil PRTM.

Di sana, Beatrice tidak hanya kuliah, tetapi juga memperkuat tim tenis universitas. Kiprahnya di kompetisi kampus Amerika membuatnya meraih predikat NCAA All-American, sebuah pencapaian bergengsi bagi atlet mahasiswa.

Perjalanan Karier Profesional

Masih dikutip dari Wikipedia, Beatrice memulai debut profesional pada usia 14 tahun melalui turnamen ITF di Jakarta pada 2005. Sejak itu, ia aktif mengikuti berbagai turnamen internasional dan dikenal sebagai salah satu petenis Indonesia yang mampu bersaing di level junior dunia.

Pada 2008, bersama Jessy Rompies, ia berhasil mencapai semifinal nomor ganda putri Kejuaraan AS Terbuka Junior. Prestasi tersebut berlanjut pada 2009 saat ia menembus semifinal Australia Terbuka Junior bersama pasangan asal Thailand, Noppawan Lertcheewakarn.

Sepanjang kariernya, Beatrice juga rutin membela Indonesia di berbagai ajang regional, termasuk SEA Games dan kompetisi internasional lainnya. Ia turut tampil di Asian Games Hangzhou 2022 pada nomor ganda putri dan ganda campuran, serta beberapa kali menyumbangkan medali bagi Indonesia di SEA Games.

Namun, perjalanan sebagai atlet profesional tidak selalu mulus. Pandemi COVID-19 menjadi titik berat dalam kariernya. Ritme kompetisi terganggu, performa menurun, dan tekanan mental meningkat. Setelah perjuangan panjang untuk kembali ke performa terbaik, Beatrice akhirnya memutuskan mengakhiri karier profesional tenisnya setelah ajang PON terakhir yang diikutinya.

Dari Tenis ke Padel

Dikutip dari Youtube Akurasi TV, Beatrice kini menemukan gairah baru di olahraga padel. Awalnya, padel hanya menjadi sarana latihan tambahan untuk mempertajam kemampuan voli dalam tenis. Namun, olahraga tersebut justru menjadi babak baru dalam hidupnya.

Menurut Beatrice, meskipun tenis dan padel terlihat mirip, keduanya memiliki karakter permainan yang berbeda, terutama dalam strategi dan pemanfaatan pantulan bola dari dinding kaca lapangan.

Kini, ia aktif sebagai pelatih padel sekaligus mendirikan PNB Academy Indonesia bersama suaminya. Akademi tersebut bertujuan tidak hanya melatih teknik bermain, tetapi juga membuka peluang pendidikan melalui jalur beasiswa olahraga ke luar negeri.

Beatrice sendiri melihat perkembangan padel di Indonesia tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir dan berpotensi menjadi olahraga populer di masa depan. Bagi Beatrice sendiri, tenis dan padel tidak perlu dipertentangkan.

“Orang bisa main tenis dan padel sekaligus. Yang penting tetap olahraga dan tetap sehat,” tukasnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Jessica Jane, Mantan Atlet e-Sport yang Juga Konten Kreator Populer

Aktivitas dan Kehadiran di Media Sosial

Dikutip dari akun Instagram pribadinya, @beatricegumulya, Beatrice memiliki sekitar 12,1 ribu pengikut.

Dalam bio akun Beatrice tersebut, ia memperkenalkan dirinya sebagai atlet profesional tenis dan padel yang mewakili Indonesia, sekaligus mencantumkan statusnya sebagai NCAA All-American serta peraih medali emas di ajang internasional.

Media sosialnya tersebut menjadi salah satu sarana bagi Beatrice untuk berbagi aktivitas olahraga, pelatihan, serta perkembangan padel di Indonesia.

Penghargaan dan Prestasi

Masih dikutip dari Wikipedia, sejumlah pencapaian penting Beatrice mencakup keberhasilannya mencapai semifinal US Open Junior 2008 dan Australian Open Junior 2009, meraih gelar juara tunggal ITF Jakarta pada 2008, serta mengoleksi 15 gelar juara nomor ganda di sirkuit ITF sepanjang karier profesionalnya.

Ia juga menyumbangkan medali perunggu pada Universiade 2015, meraih medali emas di Asian Indoor and Martial Arts Games 2017, serta medali emas nomor ganda putri SEA Games 2019, di samping turut mempersembahkan medali pada berbagai edisi SEA Games lainnya.

Selain itu, Beatrice juga meraih predikat NCAA All-American di Amerika Serikat dan aktif mewakili Indonesia di ajang Asian Games serta berbagai kompetisi regional maupun internasional.

Di sisi lain, Beatrice tetap aktif berkompetisi di turnamen padel internasional. Dikutip dari Padelfip.com, performanya terlihat dari perolehan poin yang ia kumpulkan di sejumlah ajang FIP sepanjang 2025 hingga awal 2026. Hasil terbarunya datang dari FIP Silver Australian Padel Open pada Januari 2026, saat ia mencapai babak 16 besar dan meraih delapan poin.

Sebelumnya, ia juga menembus babak 16 besar di FIP Bronze Qatar Doha II pada November 2025 dengan tambahan lima poin, serta mencapai babak 32 besar di FIP Silver Reap Hong Kong pada periode yang sama dengan raihan lima poin.

Pencapaian terbaiknya dalam rentang waktu tersebut terjadi di FIP Bronze Reap Samui, Thailand, ketika ia melaju hingga semifinal dan mengumpulkan 14 poin.

Sementara itu, di FIP Bronze Indonesia II pada Juni 2025, Beatrice mencapai perempat final dan menambah delapan poin. Konsistensi tampil di berbagai turnamen ini menunjukkan bahwa ia tetap kompetitif sekaligus berperan aktif dalam perkembangan padel di tingkat internasional.

Pesan dan Filosofi Hidup Beatrice

Masih dikutip dari Youtube Akurasi TV, Beatrice Gumulya menekankan bahwa kunci utama dalam berolahraga adalah menikmati prosesnya terlebih dahulu, sementara teknik dan prestasi akan berkembang seiring waktu.

Ia percaya pendekatan yang menyenangkan sangat penting, terutama bagi anak-anak yang baru belajar olahraga, agar mereka tidak cepat merasa frustrasi dan tetap memiliki motivasi untuk berkembang.

Menurutnya, rasa senang saat bermain menjadi fondasi utama sebelum berbicara tentang prestasi. Prinsip inilah yang terus ia pegang, baik saat masih aktif bertanding maupun kini ketika menjadi pelatih.

“Yang penting orangnya senang dulu mainnya. Kalau sudah senang, semuanya bisa dipelajari pelan-pelan,” ujarnya.

Selain itu, Beatrice juga mengingatkan bahwa tidak semua atlet harus berakhir sebagai pemain profesional.

Menurutnya, pendidikan tetap memiliki peran penting, dan olahraga dapat menjadi pintu untuk memperoleh peluang akademik, termasuk melalui jalur beasiswa, sehingga masa depan atlet tetap memiliki banyak pilihan.

Tips Olahraga dari Beatrice

Saat ditemui Olenka belum lama ini, Beatrice pun membagikan tips bagi pemula yang ingin mencoba padel maupun tenis.

Menurutnya, banyak orang terlalu fokus membeli perlengkapan mahal sebelum benar-benar mencoba bermain.

“Untuk pemula, jangan takut mencoba dulu. Raket bisa pinjam, tapi sepatu itu yang lebih penting,” tukasnya.

Ia pun menekankan pentingnya menggunakan sepatu yang tepat karena permainan padel banyak melibatkan gerakan samping dan perubahan arah cepat.

“Banyak yang datang sudah punya raket, tapi masih pakai sepatu running. Itu cukup bahaya,” jelasnya.

Ia juga menyarankan pemula mengikuti coaching agar teknik dasar tidak salah sejak awal.

Baca Juga: 6 Atlet Panjat Tebing Perempuan Indonesia yang Bikin Bangga