Jika berbicara tentang figur multidisipliner yang berpengaruh dalam kebudayaan Indonesia masa kini, nama Avianti Armand kerap berada di barisan terdepan. Ia dikenal sebagai penulis dan penyair yang karyanya tidak hanya indah secara sastra, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan ingatan, tubuh, ruang, dan kemanusiaan dengan bahasa yang tenang namun menyentuh.
Melalui puisi, cerpen, dan tulisan reflektif, Avianti menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan pengalaman manusia, terutama mereka yang kerap luput dari sorotan narasi besar sejarah dan budaya.
Tak hanya berkarya lewat kata, Avianti juga seorang arsitek yang memandang ruang sebagai bagian dari cerita manusia. Baginya, ruang menyimpan nilai, memori, dan kehidupan sosial yang saling terhubung.
Dan, untuk mengenal lebih dekat sosok Avianti Armand, berikut Olenka rangkum profil singkatnya sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Senin (19/1/2026).
Latar Belakang
Dikutip dari Wikipedia, Avianti Armand lahir di Jakarta pada 12 Juli 1969. Ia tumbuh dan berkarya di lingkungan perkotaan, pengalaman yang kemudian banyak mempengaruhi kepekaan estetik serta tema-tema yang hadir dalam karya-karyanya.
Meski dikenal luas di ruang publik, Avianti memilih menjalani kehidupan pribadi secara sederhana. Ia jarang menyoroti latar keluarga dan lebih memilih membiarkan karya serta gagasannya berbicara langsung kepada publik.
Pendidikan dan Awal Ketertarikan pada Ruang dan Bahasa
Ketertarikan Avianti Armand pada ruang, struktur, dan makna tumbuh seiring pendidikannya di bidang arsitektur. Disiplin ini membentuk cara berpikirnya yang rapi, reflektif, dan peka terhadap detail.
Pendekatan tersebut terasa kuat tidak hanya dalam karya arsitektur, tetapi juga dalam pilihan kata dan alur cerita di karya sastranya. Bagi Avianti, ruang bukan sekadar bentuk fisik, melainkan juga ruang emosional dan simbolik, pandangan yang terus hadir dalam perjalanan kreatifnya.
Menapaki Dua Dunia
Dikutip dari Wikipedia, Avianti mulai berpraktik sebagai arsitek pada 1992. Ia tidak hanya merancang bangunan, tetapi juga aktif dalam diskusi tentang arsitektur dan kota. Salah satu karya rumah tinggalnya meraih Penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 2008.
Kiprahnya kemudian meluas ke dunia kuratorial, di antaranya dengan menggagas bengkel kerja dan pameran Ruang Tinggal Dalam Kota di Komunitas Salihara (2010), menjadi kurator Pameran Arsitek Muda Indonesia, serta memimpin tim kurator Paviliun Indonesia pada Venice Architecture Biennale 2014 dengan tema Craftsmanship: Material Consciousness.
Dikutip dari BBC Indonesia, Avianti juga pernah dipercaya memimpin tim kurator Indonesia dalam pameran arsitektur internasional di Venesia. Peran ini menegaskan posisinya sebagai salah satu wakil pemikiran arsitektur Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Mengenal Ratih Kumala, Penulis Perempuan di Balik Kesuksesan Novel Gadis Kretek yang Mendunia