Produktivitas dan Karya Sastra

Di dunia sastra, Avianti mulai dikenal sejak akhir 1990-an. Kumpulan cerpen pertamanya, Negeri Para Peri (1999), menandai kehadirannya sebagai penulis dengan gaya yang tenang namun tajam. Salah satu cerpennya ‘Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian’, terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2009.

Ia kemudian menerbitkan kumpulan cerpen Kereta Tidur serta sejumlah buku puisi penting. Buku puisi ‘Perempuan yang Dihapus Namanya’ (2011) menghadirkan sudut pandang baru terhadap tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci dan mengantarkannya meraih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori puisi. Prestasi serupa kembali diraih lewat buku puisi Museum Masa Kecil (2018).

Masih dikutip dari Wikipedia, selain puisi dan fiksi, Avianti juga menulis esai dan kolom arsitektur yang kemudian dihimpun dalam buku Arsitektur yang Lain. Ia juga mengembangkan seri cerita anak dwibahasa seperti Daddy Has a Secret, One Hair One Angel, Granny Loves to Dance, dan He Says the Nicest Thing, yang mengangkat nilai empati, keberagaman, dan kesadaran sosial sejak dini.

Kepedulian Sosial dan Ruang Publik

Kepedulian Avianti terhadap masyarakat terlihat dalam berbagai inisiatif ruang publik. Dikutip dari Wikipedia, pada 2015 ia menggagas program Toilet Publik di Ruang Publik, yang melibatkan arsitek untuk merancang toilet umum secara pro bono.

Program ini berlanjut dengan perannya mengoordinasikan 11 konsultan arsitek dalam perancangan 123 RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di Jakarta pada 2016.

Ia juga menjadi Asian Cultural Council Fellow 2016 dan melakukan riset tentang museum serta arsip arsitektur di Amerika Serikat.

Bersama sejumlah rekannya, Avianti mendirikan Museum Arsitektur Indonesia pada 2017, lengkap dengan repositori digital arsitekturindonesia.org, sebagai upaya menjaga ingatan kolektif arsitektur nasional.

Pada periode 2020–2023, Avianti menjabat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Ia juga menginisiasi situs kritik sastra tengara.id, yang menjadi ruang diskusi dan kritik untuk memperkaya ekosistem sastra Indonesia.

Pengakuan

Komitmen dan kualitas karya Avianti mendapat perhatian pemerintah. Melalui Program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, Kementerian Kebudayaan mendukung keikutsertaannya dalam Konferensi Regional IBBY Asia-Pasifik di Suwon, Korea Selatan. Seperti dilansir Antaranews.com, dukungan ini bertujuan membuka peluang pengakuan internasional bagi penulis Indonesia.

Salah satu capaian penting adalah terpilihnya buku anak ‘He Says The Nicest Thing’ dalam daftar The 2025 IBBY Selection of Outstanding Books for Young People with Disabilities. Pengakuan ini menegaskan kualitas dan relevansi karya Avianti di tingkat global.

Pesan, Nilai, dan Hal Menarik

Meski jarang menyampaikan pesan secara langsung, karya-karya Avianti menyiratkan pesan tentang keberanian berpikir lintas disiplin, kesetiaan pada proses, serta kepekaan terhadap manusia dan lingkungannya.

Ia kerap menunjukkan bahwa sastra dan arsitektur bukan dua dunia yang terpisah, melainkan saling menguatkan.

Dan, dengan konsistensi dan keberanian melampaui batas disiplin, Avianti Armand hadir sebagai sosok penting dalam peta kebudayaan Indonesia sekaligus inspirasi bagi generasi kreatif masa kini.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Dee Lestari: Musisi yang Menjelma Jadi Penulis Bestseller Indonesia