Growthmates, tahukah kamu berapa dingin suhu paling ekstrem di alam semesta? Dalam teori fisika, batas terendah suhu dikenal sebagai nol absolut, yakni minus 273,15 derajat Celcius. Pada titik ini, energi dalam suatu sistem berada pada kondisi paling minimum dan aktivitas partikel hampir sepenuhnya berhenti.

Namun, hingga kini para ilmuwan belum pernah benar-benar menemukan tempat yang mencapai suhu tersebut. Yang ada hanyalah wilayah-wilayah yang mendekati batas ekstrem itu, terutama di ruang angkasa yang jauh dari sumber panas.

Baca Juga: Intip Penampakan Rumah Termahal di AS

Di alam semesta, panas tidak pernah benar-benar hilang. Bintang, planet, gas, hingga debu kosmik tetap memancarkan energi, sekecil apa pun. Bahkan di ruang hampa sekalipun, masih terdapat sisa radiasi dari peristiwa awal terbentuknya alam semesta, yakni Big Bang. Radiasi ini dikenal sebagai latar belakang gelombang mikro kosmik, dengan suhu sekitar 2,7 Kelvin atau minus 270 derajat Celcius.

Meski sudah sangat dingin, ternyata kondisi ini belum menjadi yang paling ekstrem.

Melansir IFLScience, rekor suhu terendah justru ditemukan pada sebuah nebula bernama Nebula Boomerang. Objek langit ini berada sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di rasi Centaurus.

Baca Juga: SKYE Hadir Kembali: Tawarkan Sajian dan Pengalaman Baru di Atas Langit Thamrin

Menurut European Space Agency, suhu di Nebula Boomerang dapat mencapai minus 272 derajat Celcius di mana angka tersebut hanya terpaut sekitar satu derajat dari nol absolut. Suhu ini bahkan lebih rendah dibandingkan radiasi latar belakang kosmik, menjadikannya satu-satunya objek yang diketahui memiliki kondisi se-ekstrem ini.

Keunikan tersebut membuat Nebula Boomerang dinobatkan sebagai tempat terdingin yang pernah ditemukan di alam semesta. Fenomena ini tidak terjadi begitu saja, melainkan berkaitan erat dengan fase akhir kehidupan bintang yang membentuknya.

Nebula ini pertama kali ditemukan pada 1980 oleh astronom Keith Taylor dan Mike Scarrott melalui teleskop berbasis darat di Australia. 

Nama “Boomerang” diberikan karena bentuk awalnya yang tampak melengkung, meskipun pengamatan lanjutan menunjukkan struktur yang jauh lebih kompleks.

Perkembangan teknologi, termasuk pengamatan menggunakan Hubble Space Telescope, memungkinkan para ilmuwan melihat detail nebula ini dengan lebih jelas. Struktur aslinya ternyata terdiri dari aliran material yang membentuk pola khas akibat proses dinamis di dalamnya.

Pertanyaan tentang mengapa nebula ini bisa menjadi sangat dingin akhirnya mulai terjawab sekitar 15 tahun setelah penemuannya. 

Penelitian oleh Raghvendra Sahai dari Caltech dan Lars-Ake Nyman dari European Southern Observatory menemukan bahwa Nebula Boomerang justru menyerap radiasi latar belakang kosmik.

Fenomena ini hanya mungkin terjadi jika nebula tersebut melepaskan material dalam jumlah sangat besar dengan kecepatan tinggi. Saat gas mengembang sangat cepat, panas yang dimilikinya ikut terbawa keluar, menyebabkan suhu di dalamnya turun drastis, mirip dengan efek pendinginan pada gas yang mengembang.

Dibandingkan nebula lain, Nebula Boomerang diketahui melontarkan materi hingga 10 hingga 100 kali lebih cepat. Inilah yang membuat suhunya jatuh jauh di bawah rata-rata objek kosmik lainnya.

Penelitian lanjutan pada 2017 oleh Sahai bersama astronom lain, termasuk Wouter Vlemmings dari Chalmers University of Technology, mengungkap bahwa fenomena ekstrem ini kemungkinan besar dipicu oleh sistem bintang ganda.

Dalam sistem tersebut, satu bintang pendamping berinteraksi sangat dekat dengan bintang utama yang sekarat. Interaksi ini memicu lontaran material dalam jumlah besar ke ruang angkasa dengan kecepatan luar biasa, hingga sebagian besar lapisan luar bintang terlepas dan membentuk nebula yang sangat dingin.

Dengan demikian, Nebula Boomerang bukan sekadar sisa akhir kehidupan bintang. Ia merupakan hasil dari interaksi dramatis dua bintang yang berada di ambang kehancuran, sebuah fenomena kosmik langka yang menjadikannya sebagai tempat terdingin yang pernah diketahui di alam semesta.