Pasar jam tangan mewah, terutama pasar sekunder, di Indonesia masih besar. Meski di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, pasar ritel jam tangan premium di Indonesia diperkirakan meningkat sekitar 6–7 persen per tahun, berdasarkan laporan Euromonitor 2024.

Selain Rolex yang menjadi top of mind, merek mewah lainnya seperti Chopard juga menjadi incaran. Dalam gelaran hari kedua Jakarta Watch Exchange (JWX) ke-7 pada 15-18 Januari 2026 lalu, Chopard L’Heure du Diamant 27 Carat Diamond seharga Rp1,9 miliar berhasil terjual. Jam tangan tersebut jadi salah satu koleksi langka yang dipamerkan di ajang tahunan tersebut.

Baca Juga: Pameran Jam Tangan Mewah Pertama di 2026, JWX ke-7 Targetkan Transaksi Rp200 Miliar

“Peminat jam tangan mewah di Indonesia masih banyak. Kami pun rutin mengadakan pameran, biasanya dua kali dalam setahun. Terbesar, kami bisa mengumpulkan 20 ribu pengunjung selama gelaran JWX dilakukan,” ujar Nike April, Event Director JWX, di Gandaria City, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Sejarah Chopard

Sebagai produsen jam tangan kantong yang dikenal berkualitas tinggi, Chopard didirikan pada tahun 1860 di Sonvilier, Swiss, oleh Louis-Ulysse Chopard. Perusahaan ini terus dikendalikan keluarga Chopard hingga diwariskan kepada sang anak, Paul, di tahun 1937, dan kepada cucunya, Paul Andre, pada tahun 1943.

Kepemilikan Chopard berganti ke keluarga Scheufele dari Jerman sejak tahun 1963 hingga hari ini. Saat itu, Karl Scheufele III dikenal sebagai tukang emas serta pembuat jam tangan. Anak-anak Scheufele III, seperti Caroline dan Karl-Friedrich, sukses mengembangkan merek Chopard sebagai satu identitas kemewahan baru di dunia. Mereka memadukan jam tangan dengan perhiasan sehingga menciptakan produk baru bernilai tinggi.

Chopard meraih pengakuan sebagai Masters of Jewellery Watches sejak era 1970-an. Pada tahun 1988, mereka merilis koleksi jam tangan L.U.C. pertama yang terinspirasi oleh sang pendiri, Louis-Ulysse Chopard. Pamornya terus naik karena menjadi sponsor dan mitra resmi beberapa acara bergengsi, seperti Festival Film Cannes.

Sementara itu, seri L’Heure du Diamant dari Chopard secara resmi diluncurkan pada tahun 2012. Meski begitu, desainnya mengadopsi semangat kreativitas tahun 70-an sehingga menonjolkan kesan vintage. Koleksi ini dikenal sebagai jam tangan perhiasan mewah yang memadukan keahlian pembuatan jam tangan presisi tinggi (horlogerie) dengan keahlian tatahan permata (joaillerie) kelas atas. L’Heure du Diamant berhasil memenangkan Jewellery Watch Prize di Grand Prix d'Horlogerie de Genève pada tahun 2013.

Aset Investasi

Meningkatnya pasar jam tangan mewah di Indonesia juga disebabkan semakin besarnya minat generasi muda. Tidak hanya menunjukkan status sosial dan menonjolkan keindahan, jam tangan mewah diburu sebagai bagian investasi.

Hal itu juga yang ditangkap oleh Nike April, Event Director JWX. “Jam tangan merupakan salah satu instrumen investasi sehingga masyarakat perlu membelinya di pihak yang terpercaya,” tegasnya.

“Saran saya, belilah jam tangan yang modelnya sport karena nilainya akan terus naik. Yang paling utama, beli barang di trusted seller yang punya sertifikat resmi sehingga bisa diklaim jika ada masalah,” pungkasnya.

Sebagai bagian mengembangan pasar jam tangah mewah di Indonesia, Jakarta Watch Exchange (JWX) rutin menggelar pameran sebanyak dua kali dalam setahun. Pada gelaran kemarin, 36 seller, termasuk perhiasan dan tas, ikut meramaikan JWX ke-7 dengan menampilan 46 brand ternama, termasuk Richard Mille, Patek Philippe, Audemars Piguet, Rolex, Vacheron Constantin, Bvlgari, Omega, A.Lange Sohne, Cartier, Chopard, Hublot, Panerai, Tag Heuer, serta Ulysse Nardin.