Kemampuan pesepak bola membaca permainan tidak hanya bergantung pada teknik mengolah bola dan kondisi fisik. Pemain juga dituntut mampu menangkap informasi visual dengan cepat, mulai dari melihat posisi rekan setim, mengamati pergerakan lawan, hingga mengenali ruang kosong untuk membangun serangan.
Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian dalam pengembangan atlet adalah crossed laterality, yaitu kondisi ketika sisi mata dominan berbeda dengan sisi kaki atau tangan yang lebih dominan. Misalnya, seorang pemain memiliki mata kanan dominan, tetapi lebih sering menggunakan kaki kiri.
Topik tersebut dibahas dalam seminar JEC Eye Hospitals and Clinics bertajuk “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda” di Auditorium Istiantoro, RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Prof. Tjahjono menjelaskan, fungsi penglihatan perlu mendapat perhatian dalam pembinaan atlet. Menurutnya, gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan pemain dalam menangkap informasi selama pertandingan.
“Sebagai trusted eye care leader, JEC Eye Hospitals and Clinics ingin mendorong perhatian yang lebih menyeluruh terhadap fungsi penglihatan, sehingga gangguan penglihatan dapat dikenali sejak dini dan setiap pemain memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai, mulai dari masa pembinaan hingga jenjang profesional,” ujar Prof. Tjahjono.
Studi Temukan Perbedaan Pola Dominansi Pemain Elite dan Amatir
Hubungan antara dominansi tubuh dan performa sepak bola juga pernah diteliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Physiology pada 2018. Penelitian berjudul Laterality Influences Agility Performance in Elite Soccer Players tersebut melibatkan 72 pemain elite dari klub Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir.
Peneliti mengamati dominansi mata, tangan, dan kaki para peserta, kemudian menguji kemampuan mereka merespons rangsangan visual saat melakukan perubahan arah. Hasilnya menunjukkan pola crossed laterality ditemukan pada sekitar 53 persen pemain elite dan 33 persen pemain amatir.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan distribusi pola dominansi antara kedua kelompok. Meski demikian, hasil penelitian tidak membuktikan bahwa crossed laterality secara langsung membuat pemain memiliki performa lebih baik. Jumlah peserta kelompok amatir yang relatif kecil juga menjadi salah satu keterbatasan penelitian.
Baca Juga: JEC Gelar Seminar Vision of A Champion, Dorong Perhatian pada Kesehatan Mata Pesepak Bola
Pemain Harus Mengumpulkan Informasi Sebelum Bola Datang
Dari sudut pandang permainan, dr. Tommy Desky menyoroti pentingnya kemampuan pemain mengamati situasi sebelum menerima bola. Pemain tidak cukup hanya berfokus pada bola, tetapi juga perlu mengetahui kondisi di sekelilingnya agar dapat menentukan tindakan berikutnya.
“Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan,” kata dr. Tommy yang turut hadir dalam acara.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan visual scanning, yakni proses memindai lingkungan permainan untuk memperoleh informasi. Dengan mengamati situasi lebih awal, pemain memiliki gambaran yang lebih baik sebelum memutuskan untuk mengoper, menggiring bola, atau mencari ruang.
Selain itu, terdapat visual tracking, yaitu kemampuan mata mengikuti objek bergerak. Dalam sepak bola, fungsi ini membantu pemain mengikuti arah bola dan pergerakan pemain lain di lapangan.
Indra Sjafri Tekankan Pentingnya Kolaborasi dalam Pembinaan
Hadir sebagai salah satu pembicara, Coach Indra Sjafri menilai pengembangan pemain sepak bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Pelatih tidak hanya perlu memahami aspek teknis dan taktik, tetapi juga terbuka terhadap pengetahuan lain yang dapat mendukung perkembangan atlet.
“Saya berterima kasih kepada JEC Eye Hospitals and Clinics dan Prof. Tjahjono yang membuka ruang diskusi tentang kontribusi penglihatan bagi pengembangan pemain. Sepak bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis,” ujar Indra.
Pemahaman mengenai karakteristik visual dan dominansi tubuh dapat menjadi informasi tambahan bagi pelatih dalam menyusun program pembinaan. Namun, aspek tersebut tetap perlu dinilai bersama faktor lain, seperti kemampuan teknik, kondisi fisik, pemahaman taktik, dan pengambilan keputusan.
Pemeriksaan Mata Jadi Bagian dari Perhatian terhadap Atlet
Selain memahami pola dominansi, kesehatan mata juga tidak boleh diabaikan. Ketajaman penglihatan, baik saat melihat objek diam (static visual acuity) maupun objek bergerak (dynamic visual acuity), merupakan bagian dari fungsi visual yang relevan dengan aktivitas olahraga.
Pemeriksaan mata secara berkala dapat membantu mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Jika ditemukan masalah, pemain dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan sehingga fungsi penglihatannya tetap terjaga.
Pada akhirnya, pengembangan pesepak bola membutuhkan pendekatan menyeluruh. Perhatian terhadap fungsi penglihatan, pemahaman karakteristik individu, serta kolaborasi antara pelatih dan tenaga medis dapat menjadi bagian dari upaya mendukung performa atlet di lapangan.